Tag Archive: swasembada kedelai

Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia dinilai belum serius mencanangkan swasembada kedelai di Indonesia. Patokan swasembada kedelai yang hendak dicapai di tahun 2014 dianggap hanya mimpi tanpa langkah-langkah pelaksanaan yang terukur. Upaya swasembada kedelai untuk memenuhi sekitar 2,2 juta ton kebutuhan kedelai Indonesia, seperti data BPS, tidak terendus gelagatnya dari dalam negeri. Pemenuhan kebutuhan kedelai Indonesia di tahun 2014 kemungkinan besar masih ditutupi oleh impor dalam porsi yang besar.

Kementan digambarkan tak ubahnya hanya kumpulan orang-orang berjanggut, yang bila dibakar janggutnya baru memperhatikan komoditas pertanian dalam negeri. Terbakarnya janggut orang-orang Kementan biasanya disulut dari melambungnya harga komoditas pertanian. Janggut mereka yang terbakar disiram buru-buru dengan impor bukan dengan komoditas yang diceduk dalam negeri. Seiring terbakarnya janggut mereka, IPB pun sering dipersalahkan sebagai institusi yang dianggap tidak memberikan solusi di bidangnya.

Solusi produksi kedelai, seperti penuturan Profesor Ghulamahdi sebagai dosen pertanian IPB, adalah penanaman kedelai di lahan pasang surut. Ketersediaan lahan pasang surut di Indonesia menjamin produksi kedelai yang berkesinambungan. Adapun persoalan lahan pasang surut yang dinilai sebagai lahan marjinal, sudah diatasi oleh teknologi budidaya jenuh air (BJA) IPB yang telah teruji stabil meningkatkan produksi kedelai. “Dalam skala penelitian, kita sudah berturut-turut selama 4 tahun ini  mencapai produktivitas di atas 4 ton/ha. Untuk skala petani, diperkirakan produktivitas yang muncul setidaknya 2,4 ton/ha. Itu sudah bagus” ungkap Profesor Ghulamahdi.

kedelai 01

Penampilan kedelai di Lahan Pasang Surut Lampung, 2012
(Source: Andri Hamidi)

IPB sendiri sudah mulai merangkak dari skala penelitian kepada penanaman untuk skala terapan yang lebih luas. Profesor Ghulamahdi menambahkan bahwa IPB sudah bergerak dalam penyediaan benih seluas 10 ha di tahun 2013 ini. Rencananya benih tersebut akan ditanam pada bulan April 2013 pada luasan 200 ha di lahan pasang surut Palembang. Usaha penyediaan benih juga dibantu oleh Kementerian Tengaga Kerja dan Trasmigrasi (Kemenakertrans) RI.

IPB sebagai institusi pendidikan sangat menyayangkan ketidakseriusan Kementan RI dalam menanggapi ide swasembada kedelai yang diusulkan oleh IPB. Pergerakan IPB yang sudah menstimulus hingga menghasilkan teknologi terapan belum diteruskan oleh Kementan RI dalam penanaman untuk skala luas. Terkendala dalam modal awal penanaman untuk skala luas menjadi tantangan IPB agar tetap menjalankan inisiasi program swasembada kedelai Indonesia. Adapun Kementan meskipun sudah sering melongok ke IPB tetapi belum memberikan langkah pasti untuk kerja sama untuk program swasembada nasional.

Ketahanan pangan adalah bullshit (omong kosong) ketika ketahanan benih adalah zerro (nol). Ketersediaan pangan adalah bullshit ketika ketersediaan benih adalah zerro. Mudah saja menebak kedaulatan pangan  dari rumus tersebut.

Kedelai adalah salah satu pangan nasional yang akan diusung di puncak swasembada pangan. Penyediaan lahan baru untuk mendongkrak produksi, sepertinya sedang diusahakan. Entah lupa atau terlalu semangat mencari lahan, sepertinya usaha penyediaan benih tidak pernah disinggung dari mana pengadaannya.

BJA03

Pengadaan Benih secara Bertahap

Kebutuhan benih kedelai yang akan ditanam tergantung karakter varietas dan jumlah populasi yang ditanam. Misalkan saja, varietas Tanggamus hendak ditanam dengan populasi 400.000 tanaman/ha dengan bobot 100 butir benihnya adalah 10 g. Dengan demikian diperlukan setidaknya 40 kg benih untuk menanam dalam luasan satu hektar (dengan asumsi semua benih tumbuh sehingga tidak dilakukan penyulaman).

Target swasembada kedelai seharusnya sudah diperhitungkan sejak awal dari pengadaan benih. Bila saja pemerintah ingin menanam dalam luasan 100 ha, maka pemerintah memerlukan 4000 kg benih alias 4 ton benih. Sebelum mendapatkan sejumlah benih tersebut, pemerintah sudah harus menanam terlebih dahulu dalam luasan 10 ha. Dalam hal ini, dari lahan 10 ha tersebutlah dihasilkan 4 ton benih (dengan asumsi produktivitas 1 ton/ha).

Pemerintah rencananya akan menanam dalam luasan 1.5 juta ha di tahun 2014, kira-kira berapa jumlah benih kedelai yang diperlukan? Secara matematis dapat dihitung demikian, 1.500.000 ha x 40 kg/ha = 6.000.000 kg = 6.000 ton. Jadi pemerintah memerlukan 6000 ton benih untuk menggarap 1.5 juta ha lahan untuk kedelai. Dengan asumsi produktivitas nasional 1 ton/ha, kebutuhan benih tersebut harus didukung oleh luas tanam khusus untuk benih seluas 6000 ha.

Apakah sejumlah benih ini juga harus Indonesia impor? Lahan mana yang sudah dikhususkan untuk pengadaan benih kedelai di pelosok Indonesia?

Apa itu swasembada kedelai?

Swasembada kedelai menunjukkan suplai kebutuhan kedelai nasional setidaknya dipasok dari dalam negeri sebesar 90%. Dalam hal ini, masih dibutuhkan maksimal impor kedelai sebesar 10%.

Bagaimana kondisi pemenuhan kebutuhan kedelai Indonesia?

Kebutuhan dan Pemenuhan Kedelai Indonesia

Dari mimpi swasembada nasional, Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia masih belum mau terjaga untuk meningkatkan produksi lokal yang hanya mencukupi 29% dari kebutuhan nasional. Sebelum produksi nasional ditingkatkan, volume impor tentu saja tidak akan diturunkan. Semasih volume impor kedelai Indonesia belum turun hingga mencapai 10% dari kebutuhan nasional, Indonesia tetap masih dalam mimpi indah untuk swasembada kedelai.

Sebenarnya swasembada kedelai itu hanya mimpi belaka sajakah?

Pencapaian mimpi swasembada perlu diprediksi dari kenyataan luas tanam dan produktivitas kedelai di Indonesia. Bila produktivitas kedelai di Indonesia adalah 1.3 ton/ha, diperlukan luasan 1.7 juta ha areal tanam untuk menghasilkan 2.2 juta ton kedelai. Kenyataannya, alokasi areal tanam kedelai di Indonesia hanya 0.8 juta ha. Dalam hal ini, masih dibutuhkan areal tanam tambahan sebesar 53%. Upaya peningkatan produksi kedelai juga dapat ditempuh dengan perbaikan produktivitas kedelai dengan perbaikan varietas dan teknik budidaya kedelai.

Adakah harapan yang dikibarkan Kementan dalam pencapaian mimpi swasembada kedelai?

Ada. Kementan akan memperbaiki produktivitas kedelai dari 1.3 ton/ha menjadi 1.55 ton/ha. Lalu Kementan akan meningkatkan luas areal tanam kedelai dari 0.8 juta ha menjadi 1,02 juta ha. Dengan demikian produksi kedelai Indonesia dibidik Kementan beranjak dari 0.6 juta pada tahun 2012 menjadi 1.5 juta ton pada tahun 2014. Di sini terlihat kekuatan mimpi (power of dream) dari Kementan yang patut diacungi jempol.

Entahlah, jempol ini akan terancung ke atas atau ke bawah sesuai kenyataan dari pencapain mimpi swasembada tersebut.  Semoga importir kedelai nantinya tidak menampar muka Kementan Indonesia seperti kasus impor sapi yang sangat menguras dompet Indonesia. Jadi baik-baiklah impor kedelai dengan Kementan Indonesia supaya aliran impor kedelai tidak terganggu hanya kerena KPK mengendus bau tidak sedap antara importir dengan koruptor di negeri tercinta ini. Walaupun sejujurnya, bau importir kedelai sudah tidak sedap dari awal untuk petani-petani lokal Indonesia. Apalagi bau koruptor.

 

Kedelai sebagai salah satu pangan nasional di Indonesia, masih sangat rapuh ketahanan pangannya. Gejolak yang terjadi pada pertanian Amerika di tahun 2012, telah menyebabkan Indonesia sebagai importir kedelai merasakan hilangnya tempe di pasaran. Hal ini disebabkan oleh bahan baku tempe, yang adalah kedelai, menjadi sangat mahal di tangan importir.

Tanaman kedelai petani, Banyu Urip, Palembang (2012)

Seberapa pentingnya kedelai bagi masyarakat Indonesia? Secara dangkal, masyarakat Indonesia merasa ada yang kurang di piringnya kalau tidak ada tempe. Secara mendalam, tempe adalah protein nabati yang terjangkau bagi masyarakat yang tidak dapat membeli protein hewani.

Bagaimana dengan penyediaan kedelai di Indonesia? Penyediaan kedelai dalam istilah swasemba kedelai perlu dikaji secara menyeluruh. Untuk kesempatan ini, mari melihatnya dari aspek preferensi petani.

Penanaman kedelai oleh petani tentu saja dipengaruhi oleh harga yang berkembang di pasar. Sayang sekali, belum ada harga yang ditetapkan secara pasti untuk kedelai dalam negeri. Harga yang berkembang adalah penyesuaian harga kedelai lokal terhadap harga kedelai impor. Dalam hal ini, harga kedelai impor tergolong murah, sekitar Rp 6000 per kg.

Melihat harga ini, tentu saja petani akan berpikir ulang untuk menanam kedelai. Apakah lebih menguntungkan menanam kedelai dari pada kacang tanah? Sebagai informasi, kacang tanah dihargai Rp 9000 hingga 12000 per kg (belum dipipil). Penanganan panen dan pasca panen kacang tanah lebih mudah dari pada kedelai. Belum lagi, serapan pasar terhadap kacang tanah 3x lebih cepat dari pada kedelai.

Kejanggalan yang terjadi di sini adalah negeri ini yang ketergantungan akan kedelai dengan petani yang tidak pernah dilirik untuk dibina dan didorong untuk menanam kedelai. Bermimpi untuk swasembada kedelai terbilang bagus tetapi tentu saja melakukan langkah-langkah menuju swasembada itu lebih bagus. Bukankah selama ini yang menjadi penghalang swasembada kedelai adalah dipeliharanya importir kedelai, yang lebih menguntungkan bagi pejabat negeri ini? Apakah ada untungnya bagi pejabat negeri ini bila petaninya maju dalam sektor pertanian negerinya sendiri? Think again!