Terima kasih atas pertanyaan Pak Daniel di Pekanbaru. Beliau tertarik sekali mengusahakan pala di kebunnya tetapi tidak memiliki informasi yang cukup dalam analisis usahatani dan resiko berkebun pala. Terus terang saya bukan ahli pala dan belum pernah menanam pala tetapi saya mencoba menyajikan sedikit informasi seputar usahatani pala di Indonesia.

buah pala

Buah Pala
(Source: Agropreneurship)

Pala (Myristica fragrans Houtt) tidak asing ditelinga masyarakat Indonesia bila membaca sejarah kedatangan orang Eropa ke Indonesia. Tidak aneh bila bangsa Eropa jauh-jauh datang ke Indonesia karena pala adalah tanaman asli Indonesia dari gugusan Kepulauan Banda dan Maluku. Walaupun sempat menjadi primadona Indonesia, komoditi perkebunan ini kini telah ditinggal jauh oleh perkembangan perkebunan kelapa sawit dan karet. Bukan berarti perhatian untuk membangkitkan kembali pala menjadi komoditas ekspor dan penghasil devisa negara tidak dapat dialihkan kepada tanaman pala.

Apa yang dilirik oleh industri dari komoditas pala?

Biji pala menghasilkan 2 – 15% minyak etheris dan 30 – 40% lemak, sedangkan fuli menghasilkan 7 – 18% minyak etheris dan 20-30% lemak (fuli adalah arie yang berwarna merah tua dan merupakan selaput jala yang membungkus biji). Daging buah pala dapat digunakan sebagai manisan, asinan, atau jelly. Biji dan fulinya bermanfaat dalam industri pembuatan sosis, makanan kaleng, pengawetan ikan, dan lain-lainnya. (IPB-red).

Kapan pala bisa dipanen?

Pala sebagai tanaman tahunan baru bisa dipanen pada umur 7 tahun setelah tanam dan panen sangat menguntungkan pada 10 tahun setelah tanam. Setelah dapat berbuah, pala akan dapat dipanen selama 60-70 tahun. Produksi pala terus meningkat seiring pertumbuhan pala dan mencapai produksi maksimum pada umur 25 tahun setelah tanam. Dalam setahun,  ada dua puncak panen pala. Buah yang sudah matang ditandai dengan merekahnya buah. (Deptan Irian Jaya 1986).

Bagaimana produksi per pohon dan analisis usahataninya?

Produksi pala terus meningkat seiring dengan pertumbuhan pala dan kesesuaian tumbuh tanaman pala. Dari data Ditjen Perkebunan, produksi pala Indonesia pada tahun 2002 mencapai 23.157 ton dalam luasan panen 61.558 ha. Dengan demikian, produksi rata-rata dalam satu hektar adalah 0.37 ton atau 370 kg per hektar.

Bila jarak tanam yang digunakan adalah 8 m x 8 m, populasi tanaman per hektar adalah 156 batang pohon pala. Bila produksi per hektar dibagi dengan populasi per hektar, diketahui produksi tanaman per pohon adalah 2.37 kg pala kering. Tidak diketahui pala kering ini adalah biji kering atau fuli kering atau gabungan keduanya.

Dari hasil penelitian Fitrina (2007) di Kabupaten Bogor, diketahui produksi buah pala per pohon adalah 700 buah atau sekitar  20 kg buah. Bila dijual basah, buah pala dihargai Rp 142,85 sedangkan biji basahnya dihargai Rp 6900/kg. Dengan demikian, dari hasil satu pohon pala akan diperoleh Rp 99.995 bila dijual dalam bentuk buah basah sedangkan dalam biji basah diperoleh Rp138.000.

Fitriana (2007) telah menganalisis penerimaan dan pengeluaran petani pala di Kabupaten Bogor hingga menyimpulkan rasio penerimaan dan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan biji pala basah adalah sebesar 8,76 dan buah pala basah adalah 22,47. Ini berarti lebih menguntungkan menjual pala dalam bentuk buah pala basah bila harganya seperti yang telah dikemukakan di atas.

Resiko dalam penanaman pala?

Gangguan yang muncul dari penanaman pala umumnya gangguan penyakit. Menjaga lingkungan tumbuhan tanaman pala adalah usaha menurunkan resiko dari gangguan penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Cendawan dapat  menurunkan hasil dengan bentuk gangguan berupa kanker batang, busuk buah basah dan kering hingga gugur buah. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan membersihkan pertanaman dari gulma, sumber penyakit dan/atau pengendalian dengan pestisida.

Bagaimana budidaya tanaman pala?

Departemen pertanian telah menyajikan cara budidaya di situs Direktorat Tanaman Penyegar dan Rempah, di bawah ini:

  1. Persayaratan Tumbuh Tanaman Pala
  2. Persiapan Lahan Tanaman Pala

Semoga informasi ini dapat menambah wawasan pengusaha pala di Indonesia. Salam pertanian!

Sumber acuan:

  • Direktorat Tanaman Penyegar dan Rempah http://ditjenbun.deptan.go.id/budtanreyar/
  • [Deptan Irian Jaya] Departemen Pertanian Irian Jaya Dinas Perkebunan Propinsi Tk I Bagian Proyek Informasi Pertanian Irian Jaya. 1986. Pala dan Pengolahannya. http://www.deptan.go.id/ditbangbun/prospek.htm.
  • Fitrina. 2007.  Analisis Saluran Pemasaran Komoditas Pala (Myristica fragran Houtt) dan Turunannya (Studi Kasus : Desa Tamansari Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor). Skripsi. Institut Pertanian Bogor.