pemerintah 01

Dahulu ibu-ibu meneteskan air mata ketika mengupas bawang yang begitu banyak dalam acara meriah yang mengundang orang sekampung. Kini ibu-ibu meneteskan air mata yang lebih banyak karena tidak dapat mengupas satu bawang pun.

Siapa yang tahan melihat air mata? Melihat hal ini, pemerintah mengambil tindakan kuratif dengan melobi negara-negara yang kelebihan bawang. Melobi apa mengemis, apalah bedanya. Dengan bijaknya, pemerintah juga mengambil tindakan preventif dengan berinvestasi bawang di negara lain. Investasi apa impor terencana, apalah bedanya.

Jauh-jauh menanam bawang di negara tetangga, apakah karena rumput tetangga lebih hijau dari rumput negeri ini? Mental instan di kepala pemerintah tidak pernah pudar. Butuh apa-apa tinggal impor, gitu aja kok repot.

“Tidak salah dong pemerintah impor bawang besar-besaran minggu ini? Kalau kita menanam dulu, kapan kita makannya? Jadi tepatlah kebijakan impor itu dikeluarkan. Memang bijak pemerintah saat ini” kelakar teman seperjuanganku.

Yup. Kalau tidak impor sekarang, kita tidak bisa makan. Nanti kalau kita sudah makan, lupa tuh menanam. Nanti kalau sudah tidak ada yang mau dimasak, perut ribut dan rakyat ribut maka alarm impor dibunyikan.

Yang menanam angin akan menuai badai” tidak berlaku bagi Pemerintah. Bila kita tidak menanam apa-apa, impor saja.