Tag Archive: mahasiswa pertanian

Penjajakan Impor dan Swasembada

Jajaran pejabat di bidang pertanian benar-benar kecanduan impor. Impor impor dan impor saja di benaknya. Mental instan telah mendarah daging dari kebanyakan makan mie instan semasih mereka mengejar gelarnya dulu, mungkin.

Mulianya mereka untuk menjaga harga komoditas tetap stabil di pasaran. Tidak teganya mereka melihat 250 juta mulut menga-nga karena tidak tersumpal pangan di negeri ini. Bijaknya mereka untuk mengadakan pangan dengan impor.

Negeri ini bukan lagi negeri jajahan. Harusnya negeri ini yang memberi makan dunia dengan kekayaannya. Negeri ini yang harusnya memberi makan dunia, saya ulangi.

Kementan, Kemendag, Bulog dan lain sebagainya sepertinya tidak tahu bahwa negeri ini dulunya negara agraris. Sekarang juga masih. Tetapi bila ada kurang apa-apa, penjajakan komoditas pertanian dengan cepat dilakukan pada negara-negara importir. Jajaki juga tanah negeri ini!

impor swasembada pertanian01

Sudahlah, tidak ada yang dapat diharapkan dari Deptan” celetuk teman mahasiswa. Bukan Deptannya yang bermasalah tetapi orang-orang di dalamnya. Entah kapan tiba masa mereka berakhir dan digantikan. Masihkah sama?

Lebih baik, kita bergerak sendiri saja tanpa lagi mengharapkan Deptan” saran yang lainnya. Tamparan keras datang dari saran tersebut. Sudah seharusnya mahasiswa pertanian yang mengerti hal ini, mengambil alih kemudi swasembada pertanian. Mirisnya, mahasiswa pertanian tidak ada yang mau mengambil peran di lapang dan membangun jaringan. Ribuan bahkan jutaan lulusan pertanian yang dicetak oleh perguruan tinggi juga tumpul dan tak memberi warna hijau dan birunya di negeri ini.

Di titik ini, tidak lagi dapat menyalahkan siapa pun. Kembali pada diri sendiri. Diri ini adalah mahasiswa pertanian. Lulusan pertanian jelas sekali dididik bukan untuk menjajaki impor tetapi untuk menjajaki swasembada.

Ada kalanya mahasiswa pertanian membutuhkan hiburan tetapi tidak sempat untuk pergi keluar (hang out). Pilihan yang paling sering dilakukan adalah bercengkrama dengan teman kelompok, dengan teman2 di media sosial atau pun sendiri dengan menonton video.

Tidak mementahkan mahasiswa yang tergila-gila dengan drama series impor, tetapi mahasiswa pertanian juga perlu mencoba menonton film-film berkebun dari pekebun kota (urban farmer). Video dapat ditemukan di mana saja seperti satu cuplikan video berikut dari youtube.

pekebun kota

Sumber inspirasi berkebun juga dapat diperoleh dari komunitas-komunitas hijau yang telah menjamur di Indonesia. Di IPB sendiri, video inspirasi berkebun dapat dilihat di greenTV IPBEnjoy it!

pekebun kota03

Kegalauan biasanya menyergap mahasiswa yang akan menyusun tugas akhir. Tugas akhir (TA) menjadi tugas yang terakhir dan menyusahkan bagi beberapa mahasiswa. Beberapa sih.

Lahan Penelitian Lapang yang Sesungguhnya

Kesusahan itu bisa disesuaikan dari pilihan yang diputuskan sebelum menyusun TA. Pilihan itu secara ekstrim didasarkan kepada:

1. Topik.

2. Dosen pembimbing skripsi

3. Lokasi penelitian

4. Durasi penelitian

Pilih poin yang paling prioritas. Misalnya, saya harus pilih dosen yang bernama pak Ujang. Jadi, mahasiswa tersebut tidak terlalu mementingkan topik, lokasi dan durasi penelitian. Disarankan untuk nge-tag dosen tersebut sebelum mahasiswa lain memilih dosen tersebut. Dengan catatan, pihak departemen mengizinkan mahasiswa memilih dosen PS.

Contoh lain, bila memilih lokasi penelitian. Pilihlah lokasi yang diinginkan lalu sesuaikan siapa dosen yang dapat mendukung penelitian tersebut. Masalah topik dan durasi penelitian menjadi urusan belakangan. Dengan dipilihnya lokasi yang diinginkan, mahasiswa tersebut biasanya sambil menyelam minum air. Sambil penelitian bisa jalan-jalan. Atau tidak mau pergi jauh, pilihlah penelitian di lab atau lokasi terdekat.

Pilihan-pilihan itu merupakan kombinasi-kombinasi yang memiliki prioritas. Jadi tentukan prioritas untuk meminimalisir kesusahan penelitian. Hahaha.

Bukan kesusahan penelitian itu yang utama tapi tingkat keseruan dan minat penelitian itu yang menjadi dasar pemilihan penelitian. Penelitian itu sedikit banyak mempengaruhi mahasiswa dalam bergaul dan memandang dunia kerja yang di depan mata.

Enjoy this tips!

Mari membicarakan diri sendiri saja. Mungkin ini tidak obyektif tapi lebih subyektif. Ini juga dapat dibilang tidak solutif tapi lebih menyalahkan lingkungan. Tariklah sebuah kesimpulan.

Saya mahasiswa semester 7. Setidaknya 1 tahun lagi saya lulus menjadi seorang sarjana—- sarjana pertanian. Gelar ini punya potensi yang besar tentunya.

Namun di masa ini, saya masih tidak mengerti tentang satu hal. Mengapa saya tidak terbiasa speak up. Saya tidak terbiasa mengutarakan pendapat saya. Saya tidak terbiasa menjawab pertanyaan dosen yang ketika bertanya di ruang kelas. Saya tidak terbiasa bertanya kepada dosen ketika ada sesi bertanya.

Bila kemungkinannya adalah karena saya memang tidak mengerti apa-apa, benarlah bahwa saya memang tidak punya kapasitas apa-apa untuk berbicara. Saya tahu maka saya berbicara. Saya tahu pertandingan sepak bola tadi malam maka saya akan ikut angkat suara dalam forum.

Tapi bila kemungkinannya adalah saya mengerti walaupun tidak sempurna, mengapa saya begitu sulit angkat suara?

Entahlah kawan, saya mau melihat dari sisi lingkungan saya dibentuk. Lihatlah, dalam satu kelas kami ada sekitar 150 mahasiswa. Tidak semua orang mau berbicara, bertanya dan berpendapat di tengah keramaian seperti ini.

Entahlah, kami sepertinya sudah terbiasa menunggu — pasti si Joni yang akan bertanya, jadi biarlah dia saja yang bertanya.

Ini yang saya takutkan, mahasiswa-mahasiswa seperti saya yang besar kepala dengan ilmu tapi tidak aplikatif dan tidak komunikatif. Mungkinkah ini akar dari alumni pertanian yang tidak pada bidangnya?

Tahukah kamu kalau hampir semua benih tanaman hortikultura di Indonesia adalah impor dari luar negeri? Wew… Serius nih? Yup, tapi itulah kenyataannya saudara-saudara. Kemana generasi-generasi yang peduli akan perbenihan nasional? Bukankah benih adalah faktor penting yang utama dalam menghasilkan tanaman apa pun?

Ehehee… ideal banget ya ngomongnya? Yah, emang miris bangetlah negeri ini. Seorang teman pernah bertanya: “Kenapa sih yang berminat di bidang benih itu sedikit sekali?

Lalu seorang teman lainnya menjawab: “Karena hanya dengan segenggam benih saja, kita mampu beri makan dunia. Kalau hanya segenggam, kenapa harus butuh banyak orang di bidang benih?

Hmm, dalam satu mata kuliah praktik usaha pertanian, saya belajar banyak tentang produksi benih. Proses pengadaan benih yang kami lakukan boleh dikatakan masih di tengah jalan. Besar harapan kami, benih yang kami hasilkan memiliki daya tumbuh yang baik, daya kecambah yang tinggi dan seragam.

 

Tim praktik usaha pertanian di bidang benih