Tag Archive: impor kedelai

Prestasi Menteri Importir

Konon, diangkatlah menteri importir di suatu negara yang tidak bisa mengusahakan makanan rakyatnya sendiri. Menteri ini paling  disegani dari menteri lainnya karena perannya menyuap mulut jutaan rakyatnya. Simbol padi dan kapas yang diusung negara tersebut lebih tepat disimbolkan oleh pribadi menteri importir tersebut.

MENTERI IMPOR01

Prestasi menteri importir direkam oleh museum  rekor di negara tersebut. Untuk menjaga prestasi sang menteri, diusahakan tidak terjadi penuruan impor dari tahun ke tahun. Tidak boleh sama dengan tahun sebelumnya prestasi impor beras, gula, kedelai, terigu,daging,  buah, dan susu serta garam sekalipun. Negara yang dikenal sebagai negara agararis dan maritim bersandar pada menteri importir.

Kesempatan baik melahirkan dialog langsung saya dengan menteri importir. “Saya tidak pernah mengimpor kebutuhan negara ini. Saya tidak pernah” Jelas menteri importir.

Lalu prestasi yang selama ini digaungkan untuk pak menteri, siapa pelakunya?” tanyaku bingung.

Kita hanya menelurkan kebijakan menurut keperluan mulut-mulut rakyat yang perlu disumpal. Itu saja. Impor datang sebagai mekanisme. Itu saja

Aku diam. Prestasi menteri importir itu apa?

Kedelai sebagai salah satu pangan nasional di Indonesia, masih sangat rapuh ketahanan pangannya. Gejolak yang terjadi pada pertanian Amerika di tahun 2012, telah menyebabkan Indonesia sebagai importir kedelai merasakan hilangnya tempe di pasaran. Hal ini disebabkan oleh bahan baku tempe, yang adalah kedelai, menjadi sangat mahal di tangan importir.

Tanaman kedelai petani, Banyu Urip, Palembang (2012)

Seberapa pentingnya kedelai bagi masyarakat Indonesia? Secara dangkal, masyarakat Indonesia merasa ada yang kurang di piringnya kalau tidak ada tempe. Secara mendalam, tempe adalah protein nabati yang terjangkau bagi masyarakat yang tidak dapat membeli protein hewani.

Bagaimana dengan penyediaan kedelai di Indonesia? Penyediaan kedelai dalam istilah swasemba kedelai perlu dikaji secara menyeluruh. Untuk kesempatan ini, mari melihatnya dari aspek preferensi petani.

Penanaman kedelai oleh petani tentu saja dipengaruhi oleh harga yang berkembang di pasar. Sayang sekali, belum ada harga yang ditetapkan secara pasti untuk kedelai dalam negeri. Harga yang berkembang adalah penyesuaian harga kedelai lokal terhadap harga kedelai impor. Dalam hal ini, harga kedelai impor tergolong murah, sekitar Rp 6000 per kg.

Melihat harga ini, tentu saja petani akan berpikir ulang untuk menanam kedelai. Apakah lebih menguntungkan menanam kedelai dari pada kacang tanah? Sebagai informasi, kacang tanah dihargai Rp 9000 hingga 12000 per kg (belum dipipil). Penanganan panen dan pasca panen kacang tanah lebih mudah dari pada kedelai. Belum lagi, serapan pasar terhadap kacang tanah 3x lebih cepat dari pada kedelai.

Kejanggalan yang terjadi di sini adalah negeri ini yang ketergantungan akan kedelai dengan petani yang tidak pernah dilirik untuk dibina dan didorong untuk menanam kedelai. Bermimpi untuk swasembada kedelai terbilang bagus tetapi tentu saja melakukan langkah-langkah menuju swasembada itu lebih bagus. Bukankah selama ini yang menjadi penghalang swasembada kedelai adalah dipeliharanya importir kedelai, yang lebih menguntungkan bagi pejabat negeri ini? Apakah ada untungnya bagi pejabat negeri ini bila petaninya maju dalam sektor pertanian negerinya sendiri? Think again!