Adanya bahaya dari produk organisme yang telah dimodifikasi genetiknya (genetically modified organism (GMO)) telah meresahkan negara-negara konsumen produk GMO. Produk GMO yang diketahui berhasil dikembangkan dalam skala luas adalah jagung, kedelai dan kapas. Di Indonesia pada tahun 2000, telah pernah diterapkan penanaman kapas GMO di Sulawesi Utara. Keberadaan kapas tersebut terbukti mengganggu keseimbangan lingkungan dengan timbulnya serangan dan penyakit pada tanaman lain di sekitarnya. Pemerintah akhirnya mencabut kebijakan penanaman kapas tersebut.

GMO

Ilustrasi tanaman jagung yang telah disisipi genetiknya

Yang menjadi masalah dari produk GMO adalah perakitan benihnya yang telah disisipi ketahanan penyakit dan ketahanan hama. Dalam hal ini, produk GMO dapat disebut sebagai produk “berpestisida”.

Istilah disisipi menunjukkan ada gen luar yang dimasukkan ke dalam organisme tersebut. Gen luar dapat berasal dari organisme lain berupa gen unggul dari bakteri, hewan dan tumbuhan. Inilah yang menjadi kelebihan dari produk GMO sehingga dipatenkan sebagai benih berkualitas.

Keresahan konsumen produk GMO adalah konsumsi produk tersebut yang berkesinambungan bagi kesehatan mereka. Banyak penyakit-penyakit baru dan aneh muncul seperti tumor, autis, dan lain sebagainya disangkutpautkan dengan konsumsi produk GMO. Konsumen tidak dapat berbuat banyak karena awam dan terbatas dalam meneliti dampak dari produk GMO.

Adanya produk GMO tidak hanya meresahkan publik akan kesehatan mereka tetapi juga petani yang menanam benih dari produk GMO. Sebagai contoh, penanaman jagung harus menggunakan benih bersertifikat sehingga layak untuk dibeli. Benih bersertifikat inilah yang dikejar oleh produsen benih dunia, seperti Monsanto sehingga mencetak benih dengan jalan GMO. Dalam hal ini, benih jagung GMO Monsato dipatenkan dan menguasai perbenihan jagung sehingga petani biasa akan terkekang untuk menggunakan benih yang telah disertifikasi.

Penolakan terhadap benih jagung GMO keluaran Monsanto telah disuarakan oleh negara-negara importir benih jagung setelah 3 tahun komersialisasi benih tersebut. Petani penanam jagung di India misalnya, mengaku memiliki tanggung jawab dalam melindungi rakyatnya terhadap dampak dari produk GMO.

Indonesia sebagai negara yang tergolong berpenduduk terbanyak di dunia menjadi pangsa pasar empuk produsen produk GMO. Bila perbenihan nasional Indonesia tidak kuat, Indonesia juga akan ikut menanam benih GMO. Bila pun tidak menanam, Indonesia juga telah menjadi konsumen produk GMO, yaitu kedelai transgenik Amerika. Kesadaran akan dampak produk GMO rendah di Indonesia bahkan ada yang tidak tahu apa yang mereka makan sampai timbul keanehan dalam bentuk penyakit.