Tag Archive: fieldtrip

Selamat pagi blogger IPB. Ini pagi ditemani dengan sajian dari pabrik gula yang saya kunjungi di Jawa Timur bersama rombongan fieldtrip agh 45. Fieldtrip ke pabrik gula sangat membantu proses belajar dari mahasiswa pertanian. Dosen di dalam perkuliahan mengajarkan teori pembuatan gula dari penggilingan hingga pemurnian gula. Di dalam kunjungan ke pabrik gula, pelajaran itu kian dimantapkan dengan verifikasi kebenaran bahan ajar kuliah di lapangan.

Pabrik gula yang dikunjungi adalah PG Kebon Agung yang terletak di Malang, Jawa Timur. Uniknya, pabrik gula ini terletak di tengah kota. Tidak heran apabila di tengah kota lalu lalang truk-truk pengangkut tebu menuju pabrik gula tersebut. PG Kebon Agung tercatat sebagai PG swasta. Efisiensi PG tersebut dalam menghasilkan gula dari PG lainnya yang membuat kami tertarik untuk belajar pada Juni 27, 2011.

Potret tahun sejarah pabrik gula (lihat tahun-tahunnya)

Gula tidak dihasilkan oleh pabrik gula tetapi dihasilkan oleh tanaman tebu. Pabrik gula hanya mengekstrak gula dari tanaman tebu. Hal ini membuat jumlah gula yang dihasilkan bukan karena kecanggihan pabrik semata tetapi juga kualitas tebu yang masuk pabrik. Pabrik gula hanya berusaha dengan efisien dalam menggiling, memeras, dan memurnikan gula. Oleh karena itu, petani dan varietas tebu juga mempengaruhi produksi gula di pabrik gula.

Pabrik gula harus memiliki kebun tebu untuk suplai pengolahan gula. Dalam pendirian pabrik gula dan kesinambungan pabrik gula, kebun tebu adalah hal utama yang harus diperhatikan. Tebu untuk pabrik gula dapat disuplai dari kebun pabrik atau kebun petani dengan proporsi yang harus memperhitungkan kesinambungan produksi.

Setiap tebu yang masuk pabrik harus diperiksa. Pemeriksaan tebu meliputi penimbangan tebu dan pengujian kandungan brix gula. Penimbangan tebu dilakukan di depan satu pos penimbangan dengan lantai yang memiliki timbangan. Tebu ditimbang bersamaan dengan truknya. Tentunya, bobot tebu adalah bobot tebu tanpa bobot truknya. Pengujian kadar brix gula dilakukan menggunakan alat yang disebut refraktrometer. Untuk gula dengan kadar brix kurang dari 15, tebu tersebut tidak diterima oleh pabrik. (Pertanyaan: bagaimana nasib petani yang ditolak tebunya oleh pabrik?)

Tebu ditimbang bersama truknya

Truk pembawa tebu di parkiran

Tebu-tebu yang telah melalui pemeriksaan akan masuk ke tahap pengolahan. Menariknya, sebuah pabrik gula harus menyediakan parkiran yang begitu luas untuk menampung truk-truk yang antri untuk masuk ke pengolahan. Sejauh mata memandang, parkiran hanya dihiasi oleh truk-truk pengangkut tebu. Tidak heran, kapasistas pabrik adalah 9000 ton tebu/hari. (Pertanyaan: Apakah tebu yang dibiarkan terlalu lama diantrian akan menurunkan gula yang diproduksi pabrik?)

Pengolahan tebu melalui rangkaian pencurahan tebu, pencahahan, penumbukan, penggilingan, pemerasan dan imbibisi, pemanasan, dan pemurnian. Dari alat penggilingan, PG Kebon Agung menerapkan 4 kali penggilingan dari 5 penggilingan yang tersedia. Lama produksi gula dari tebu menjadi gula adalah 24 jam dengan waktu awal giling selama 5 hari.

Tebu masuk pengolahan

Penggilingan tebu

Panci-panci raksasa

Panci-panci raksasa

Pabrik dari luar

Gula pasir

Butiran-butiran gula pasir terlihati diujung proses pengolahan. Butiran gula tersebut awalnya adalah nira mentah yang kemudian melalui proses pengenceran, pengentalan, penguapan, dan pengkristalan. Tidak hanya gula butiran, hasil dari pengolah gula juga dapat berupa gula tetes.

Butiran gula tersebut sudah mengalami pemurnian sehingga warnanya sudah terlihat putih. Pemurnian gula menggunakan susu kapur dan belerang. Pemurnian gula dimaksudkan untuk mengurangi bahan kimia berbahaya dalam pengolahan dan memberikan warna lebih terang. Dengan demikian, gula tersebut sudah dapat dikemas dan diedarkan di pasar.

Menyoroti efisiesi produksi gula, pengolahan gula dipengaruhi oleh rendemen gula dan efisiensi pada penggilingan, pada blodong, pada gula tetes. Tebu yang diterima oleh pabrik harus memiliki nilai rendemen pengolahan sehingga dapat diprediksi gula yang dapat diproduksi oleh pabrik. Efisiensi pada penggilingan merupakan kemampuan alat dalam pressing tebu sehingga maksimal dalam ekstraksi gula. Efisiensi pada blodongan merupakan jumlah bagian tebu yang terbawa di pabrik yang dapat diekstrak. Efisiensi pada gula tetes mencerminkan efisiensi pada pengggilinga. Bila gula tetes yang dihasilkan sangat manis, gula banyak banyak terbuang sehingga pengolahan tidak efisien.

Ritual kunjungan dengan sesi pemotretan sebagai dokumentasi

Yang berkesempatan mengunjungi pabrik gula di masa mendatang, semoga mendapat informasi lebih lengkap dari sajian di atas. Yang belum sempat mengunjunginya, semoga informasi tersebut menambah wawasan. Yang tertarik untuk bekerja di pabrik gula, ayo belajar dari sekarang :)

Selamat pagi blogger IPB. Topik yang dihidangkan pagi ini adalah lahan pertanian di Indonesia. Judul tulisan di atas diracik sedikit romantis seperti mendung bogor di pagi ini.

Dulu saya pernah berpikir, dari mana beras yang orang Indonesia makan setiap hari? Berapa luas lahan yang harus disediakan untuk menambal perut-perut yang terus menganga? Jawabannya saya peroleh ketika mengikuti parade fieltrip mahasiswa agh yang bertolak dari Jawa Barat ke Jawa Timur. Sepanjang jalan saya melihat hamparan lahan pertanian dan akhirnya saya mengerti.

lanskap lahan pertanian

Pengolahan lahan

Penyediaan bibit padi

Penanaman bibit padi di lapangan

Tanaman padi baru tanam

Hamparan sawah

Burung pipit di lantai jemur

PT Sang hyang sri sebagai produsen benih

 

Foto-foto yang disajikan adalah jepretan di atas bis yang sedang berjalan. Mata dimanjakan dengan hamparan luas lahan pertanian sembari merenungkan kesinambungan pemakaian lahan.

Saya akui dalam trip lintas Jawa ini kalau saya baru melihat hamparan lahan pertanian berkilo-kilo meter. Ini begitu berbeda dengan lahan praktikum kami yang memiliki luas 4m x 5 m. Lahan praktikum bisa dikeroyok dengan 5-10 orang namun lahan pertanian sesungguhnya tidak terdapat seperti itu.

Walaupun lahan pertanian sudah seluas ini, kebutuhan akan pangan seperti beras ternyata belum sanggup menyuplai kebutuhan dalam negeri. Isu impor masih terjadi setiap tahunnya. Tidak hanya itu, isu konversi lahan pertanian ke non pertanian kian memperparah keadaan tersebut.

Lahan tebu pasca dibakar untuk penanaman baru

Bunga-bunga tanaman tebu

 

Pertanian campuran antara jagung dan bawang merah

 

Tanaman jagung di sepanjang tepi jalan

 

Pertanaman bawang merah

Indonesia adalah negara agraris, dunia tahu itu. Indonesia cukup sinar matahari untuk pertanian sebagai negara dengan iklim tropis, dunia juga tahu. Akan tetapi tahukah dunia bahwa Indonesia berswasembada bahan pangan? Dulu pernah Indonesia swasembada beras, itu jawaban klasik. Atau pertanian Indonesia tinggal sepanjang jalan kenangan? Generasi muda saat ini harus cinta dengan pertanian. Itu bisikan yang datang dari dunia masa mendatang.

 

Satu momen yang tidak dapat dilupakan saat menjadi bagian keluarga besar agronomi dan hortikultura (AGH) adalah fieldtrip angkatan yang diadakan pada saat peralihan semester 6 ke semester 7. Selama hampir seminggu bersama-sama dengan rekan-rekan seperjuangan, yeah bersama-sama. Dalam kebersamaan, mahasiswa mengunjungi perkebunan, industri, sentra produksi, pusat penelitian dan petani secara langsung di lapangan.

Untuk mahasiswa AGH angkatan 45 IPB, fieldtrip ini dikenal dengan sebutan manisnya, yaitu STEVIA. STEVIA merujuk pada Student Fieldtrip and Vocation with Agronomy and Horticulture 45. Pernak-perniknya meliputi

  1. pembentukan kepanitiaan,
  2. pembagian bis,
  3. penentuan lokasi kunjungan,
  4. pemutaran video di dalam bis,
  5. foto-foto,
  6. bermalam di hotel,
  7. bermalam di jalan di dalam bis,
  8. toilet SPBU,
  9. karakoean di dalam bis,
  10. transit makan,
  11. mengumpulkan jurnal,
  12. dan menikmati tempat kunjungan.

Ini momen yang tidak dapat dilupakan, sekali lagi saya ulangi. Saya berniat untuk membagikannya kepada blogger dalam beberapa posting saya ke depan. Semoga dapat memberikan inspirasi dan membuka mata tentang pertanian.

[senyum-senyum mengingat kejadian ini]

Hampir seminggu merasakan indahnya fieldtrip akbar bersama-sama teman-teman, mahasiswa semester 6 jurusan agronomi dan hortikultura harus mengikuti kuliah kerja profesi. Simak kegalauannya berikut ini.

Read More »

Welcome semester 7

Wuihhh… Berasa tua banget di kampus dengan asam dan garam (lagi masak soto), ehehehe… Yup, sewajarnya anak semester 7 adalah mahasiswa tertua di kampus. Akan tetapi tenang aja, masih ada yang lebih tuir koq, kakak2 yang masih penelitian. Jadi, selow lah. :mrgreen:

Entah kenapa, hari pertama kuliah, saya sudah merasa tertekan. Padahal, awal kuliah adalah momen dengan sejuta semangat seperti pijaran kembang api yang pecah di malam tahun baru. Mungkin karena masih ada beban laporan KKP, huahahaha…

Iya, kita baru saja pulang Kuliah Kerja Profesi dari kabupaten2 terpilih di tanah Indonesia. Dalam kurun 40 hari, kita “mengabdi” pada masyarakat. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dan banyak pelajaran yang dapat dibagi. Banyak sesal dan banyak terima kasih.

Sebelum KKP juga ada momen fieldtrip lintas Jawa. Lengkaplah bulan2 kemaren untuk melihat2 dunia luar dan melirik dunia kerja. Kira2 mau kerja di mana? Hmm, mari kita rancang pada semester 7 ini. Buat yang masih semester muda, tidak salah juga merancangnya, dan itu jauh lebih baik. 😀