Jajaran pejabat di bidang pertanian benar-benar kecanduan impor. Impor impor dan impor saja di benaknya. Mental instan telah mendarah daging dari kebanyakan makan mie instan semasih mereka mengejar gelarnya dulu, mungkin.

Mulianya mereka untuk menjaga harga komoditas tetap stabil di pasaran. Tidak teganya mereka melihat 250 juta mulut menga-nga karena tidak tersumpal pangan di negeri ini. Bijaknya mereka untuk mengadakan pangan dengan impor.

Negeri ini bukan lagi negeri jajahan. Harusnya negeri ini yang memberi makan dunia dengan kekayaannya. Negeri ini yang harusnya memberi makan dunia, saya ulangi.

Kementan, Kemendag, Bulog dan lain sebagainya sepertinya tidak tahu bahwa negeri ini dulunya negara agraris. Sekarang juga masih. Tetapi bila ada kurang apa-apa, penjajakan komoditas pertanian dengan cepat dilakukan pada negara-negara importir. Jajaki juga tanah negeri ini!

impor swasembada pertanian01

Sudahlah, tidak ada yang dapat diharapkan dari Deptan” celetuk teman mahasiswa. Bukan Deptannya yang bermasalah tetapi orang-orang di dalamnya. Entah kapan tiba masa mereka berakhir dan digantikan. Masihkah sama?

Lebih baik, kita bergerak sendiri saja tanpa lagi mengharapkan Deptan” saran yang lainnya. Tamparan keras datang dari saran tersebut. Sudah seharusnya mahasiswa pertanian yang mengerti hal ini, mengambil alih kemudi swasembada pertanian. Mirisnya, mahasiswa pertanian tidak ada yang mau mengambil peran di lapang dan membangun jaringan. Ribuan bahkan jutaan lulusan pertanian yang dicetak oleh perguruan tinggi juga tumpul dan tak memberi warna hijau dan birunya di negeri ini.

Di titik ini, tidak lagi dapat menyalahkan siapa pun. Kembali pada diri sendiri. Diri ini adalah mahasiswa pertanian. Lulusan pertanian jelas sekali dididik bukan untuk menjajaki impor tetapi untuk menjajaki swasembada.