Apa itu swasembada kedelai?

Swasembada kedelai menunjukkan suplai kebutuhan kedelai nasional setidaknya dipasok dari dalam negeri sebesar 90%. Dalam hal ini, masih dibutuhkan maksimal impor kedelai sebesar 10%.

Bagaimana kondisi pemenuhan kebutuhan kedelai Indonesia?

Kebutuhan dan Pemenuhan Kedelai Indonesia

Dari mimpi swasembada nasional, Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia masih belum mau terjaga untuk meningkatkan produksi lokal yang hanya mencukupi 29% dari kebutuhan nasional. Sebelum produksi nasional ditingkatkan, volume impor tentu saja tidak akan diturunkan. Semasih volume impor kedelai Indonesia belum turun hingga mencapai 10% dari kebutuhan nasional, Indonesia tetap masih dalam mimpi indah untuk swasembada kedelai.

Sebenarnya swasembada kedelai itu hanya mimpi belaka sajakah?

Pencapaian mimpi swasembada perlu diprediksi dari kenyataan luas tanam dan produktivitas kedelai di Indonesia. Bila produktivitas kedelai di Indonesia adalah 1.3 ton/ha, diperlukan luasan 1.7 juta ha areal tanam untuk menghasilkan 2.2 juta ton kedelai. Kenyataannya, alokasi areal tanam kedelai di Indonesia hanya 0.8 juta ha. Dalam hal ini, masih dibutuhkan areal tanam tambahan sebesar 53%. Upaya peningkatan produksi kedelai juga dapat ditempuh dengan perbaikan produktivitas kedelai dengan perbaikan varietas dan teknik budidaya kedelai.

Adakah harapan yang dikibarkan Kementan dalam pencapaian mimpi swasembada kedelai?

Ada. Kementan akan memperbaiki produktivitas kedelai dari 1.3 ton/ha menjadi 1.55 ton/ha. Lalu Kementan akan meningkatkan luas areal tanam kedelai dari 0.8 juta ha menjadi 1,02 juta ha. Dengan demikian produksi kedelai Indonesia dibidik Kementan beranjak dari 0.6 juta pada tahun 2012 menjadi 1.5 juta ton pada tahun 2014. Di sini terlihat kekuatan mimpi (power of dream) dari Kementan yang patut diacungi jempol.

Entahlah, jempol ini akan terancung ke atas atau ke bawah sesuai kenyataan dari pencapain mimpi swasembada tersebut.  Semoga importir kedelai nantinya tidak menampar muka Kementan Indonesia seperti kasus impor sapi yang sangat menguras dompet Indonesia. Jadi baik-baiklah impor kedelai dengan Kementan Indonesia supaya aliran impor kedelai tidak terganggu hanya kerena KPK mengendus bau tidak sedap antara importir dengan koruptor di negeri tercinta ini. Walaupun sejujurnya, bau importir kedelai sudah tidak sedap dari awal untuk petani-petani lokal Indonesia. Apalagi bau koruptor.

 

Menanam Sayuran di Batang Pisang

Media tanam yang diperlukan untuk menumbuhkan tanaman sudah bervariasi hingga saat ini. Penanaman di atas tanah yang telah dilakukan sejak nenek moyang dahulu kala, dianggap sudah tidak relevan untuk beberapa komoditas. Pencarian media tanam tidak lepas dari keingintahuan akan kebutuhan nutrisi yang sesuai oleh tanaman dan menghindari patogen tular tanah yang menurunkan hasil tanaman.

Hidroponik diusung sebagai cara tanam baru yang tidak menggunakan tanah. Tanaman diberi media lain seperti kerikil, pasir, sabut kelapa atau bahkan hanya styrofoam sebagai penyangga tanaman di atas larutan hara. Permainan formula nutrisi tanaman pun dimainkan hingga ditemukan dua larutan stok (A dan B) yang tidak dicampur sebelum disuapkan ke tanaman.

Lucunya, seorang blogger Thailand di blognya bettertree, mengangkat penggunaan batang pisang sebagai media tanam. Batang pisang hanya dirubuhkan tanpa dipotong dari bonggolnya kemudian selada ditanam di batang pisangnya. Tidak diketahui apakah ini telah diaplikasikan secara luas di Thailand tetapi ini cukup prospektif untuk diterapkan juga di Indonesia.

Penggunaan batang pisang
(source: http://bettertree.blogspot.com)

Batang pisang sendiri diketahui mengandung  hingga 80% air. Selama ini batang pisang telah banyak diteliti untuk digunakan sebagai pakan ternak karena kandungan selulosanya yang berkadar lignin rendah. Penggunaan batang pisang tetap menjanjikan karena kandungan glukosa batang pisang dapat menyuplai kebutuhan tanaman, baik pisang itu sendiri maupun tanaman yang ditanam di batang pisang.

 

Lulusan Pertanian Yang Terkasih

Yang terkasih, lulusan pertanian di mana pun tunas-tunasmu tumbuh lembut.

Ada yang ingin menjadi sepertimu, lulusan pertanian. Tidak banyak memang tetapi ada, ya ada. Kini engkau telah lulus dari perguruan tinggi dan langkah kau ayun untuk kembali ke dalam pelukan masyarakat.

Tetapi mengapa? Mengapa engkau tidak tertanam di bidang pertanian?

Sekali lagi. Ada yang ingin menjadi sepertimu, lulusan pertanian. Tidak banyak memang tetapi ada. Kini engkau telah lulus dan semangat pertanianmu lepas seperti engkau melepas baju toga wisudamu.

Tidak mudah memang menjadi wirausaha pertanian. Kenyataannya adalah tanpa wirausaha tidak ada pertanian. Pertanian dan wirausaha itu seperti swasembada yang dibisik-bisikkan oleh pemerintah dengan malu-malu.

Negeri ini sudah terlanjur menjadi pasar empuk globalisasi. Tinggal menunggu jengkol impor saja karena sudah semua produk mendapat pasar di Indonesia tercinta ini.

Sekali lagi dan lagi. Ada yang ingin menjadi sepertimu, lulusan pertanian. Tidak banyak memang tetapi ada.

Menyerap pertanaman bawang merah Brebes

Menyerap pertanaman krisan Malang

Menyerap pertanaman teh Malang
(Source: Andri Hamidi)

 

Sticky in Love, Here in IPB

Semester baru, IPK baru. IPK baru yang mana ini? Hehehe. IPK baru sebagai modal untuk KRS baru atau IPK baru yang akan digapai di KRS baru? Yang jelas IPK selalu diperbaharui, mahasiswanya yang mungkin tidak berubah. Aih.

Masa-masa ini, masa-masa nilai ujian telah dipetik. Masa-masa suram mungkin. Masa-masa penuh harapan baru, mungkin. Masa-masa bertolak untuk bangkit, mungkin. Yang pasti, jargon untuk semester baru adalah selalu semester baru ini harus lebih baik.

IPB punya cara sendiri dalam menyatukan mahasiswanya yang telah berserakan di lantai setelah mengalami badai pengumuman nilai. Itu yang disebut sticky in love.

Pilih saja. Mau tetap bersamaku, sticky with me in love, ujar IPB. Atau tidak sama sekali. Mau atau tidak mau. Bukan bisa atau tidak bisa.

Bila mau, lihat ada “bisa” yang mengikuti.

——————————————————-

Beberapa berujar, IPB pandai mengambil hati. Awalnya aku tak suka IPB tapi tim basketnya keren. Jadi aku mau tetap di sini dan memperbaiki nilaiku.

See?

Terkadang bukan gedungnya tetapi orang-orang yang sedang bersama kita saat ini di IPB, itu yang membuat kita bertahan. [ suatu saat setelah alumni, kembali ke IPB adalah memorial tentang orang-orang di dalamnya]

Tetap bertahan. Tetap bertahan? Menurutmu, siapa yang bisa tahan kuliah di IPB? Hahaha. Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja mereka yang sticky in love. Kuliah sticky in love. Bekerja dalam tim yang sticky in love. Respect dengan dosen dengan sticky in love.

Misal saja, belajar bahasa inggris tidak akan menarik, sampai suatu saat kita menemukan love songs berbahasa inggris. Apa guna segala sesuatu hanya diperoleh ketika kita merasa melekat dengannya dalam cinta. Aih.

Bila kita sudah melekat dalam cinta kepada sesuatu, jadi apa itu masalah, hambatan dan tantangan?

[c] Bunga Pintoi

Hei bunga pintoi!”

Ah, Mas Yudi. Ngeledek aja nih” balas seorang mahasiswi tingkat akhir yang agak kaget namun kemudian menatap layar laptopnya kembali. Di sore itu, lab pascapanen sedang sepi. Ia sampai-sampai tidak sadar Yudi menghampirinya perlahan.

Sudah menimbang hasil oven brangkasan pintoinya?” tanya Yudi sambil mengambil tempat dekat yang disebut si bunga pintoi.

Sudah. Ini sedang input datanya. Tinggal sedikit lagi” ucap bunga pintoi sambil terus mengetik angka-angka dalam sheet excelnya. “Nah, selesai

Asyik. Tinggal olah data nih

Haha. Iya” ucap Bunga pintoi. Ia lalu melemparkan pandangannya ke sekeliling lab pascapanen. Meregangkan otot-otot matanya yang lelah menatap layar laptop. “Kadang aku pikir, aku benar-benar adalah bunga Arachis pintoi

Tergantung di mana kamu berada sih” sambar Yudi.

Iya. aku merasa menjadi gulma di antara orang-orang hebat di jurusan. Aku merasa asing. Mungkin tempatku bukan di sini

Heh? Sudah sejauh ini, baru merasa seperti itu? Efek penelitian ini. Bahaya. Hahaha” Yudi menyela untuk memecah kabut galau si bunga pintoi. “Engga kok. Kamu lebih mirip bunga pintoi yang memperindah taman. Perpaduan hijau dan kuning yang cantik”

Ah, jangan menggoda, Mas Yudi. Aku kebal gombalan. Haha

Haha. Namanya juga usaha

“Kenapa aku engga seperti Arachis hipogea? Merasa berguna gitu

Oh, ini dalam lingkup membandingkan diri dengan orang lain toh? Rumput tetangga memang lebih hijau

Ah, iya. Aku kadang suka membandingkan diri dengan yang lainnya. Itu mungkin salahku

Engga salah sih. Tapi kurang berat melihat sisi kekuatanmu saja” ucap Yudi agak tenang. “Sekarang Arachis pintoi digunakan sebagai pupuk hijau. Berarti dia mengorbankan seluruh hidupnya untuk berguna

Hmm. Iya ya. Tapi aku berguna apanya ya? Kekuatanku apa, selain cantik? Haha

Entahlah. Kau sendirilah yang tahu. Perlu menyadarinya sebelum masa depan datang

Masa depan?”

Kalau pun engga ketemu kekuatan lain, di masa depan itu yang cantik biasanya bertemu dengan pria culun yang hebat

Ah, mentang-mentang Mas Yudi culun. Sama sekali engga mempan Mas Yud. Hahaha

Namanya juga usaha. Hahaha” Gelak tawa Yudi menyambut tawa si bunga pintoi. Ruang lab pascapanen menjadi lebih hangat. Ada suasana persahabatan yang mendorong daya juang. Mereka yang menikmati penelitiannya akan menemukan kehangatan-kehangatan filosofis.

PS: Memandang hidup yang sekarang seperlunya saja. Hidup juga ada di masa depan untuk dipandang dan didekati.