Ada kalanya mahasiswa pertanian membutuhkan hiburan tetapi tidak sempat untuk pergi keluar (hang out). Pilihan yang paling sering dilakukan adalah bercengkrama dengan teman kelompok, dengan teman2 di media sosial atau pun sendiri dengan menonton video.

Tidak mementahkan mahasiswa yang tergila-gila dengan drama series impor, tetapi mahasiswa pertanian juga perlu mencoba menonton film-film berkebun dari pekebun kota (urban farmer). Video dapat ditemukan di mana saja seperti satu cuplikan video berikut dari youtube.

pekebun kota

Sumber inspirasi berkebun juga dapat diperoleh dari komunitas-komunitas hijau yang telah menjamur di Indonesia. Di IPB sendiri, video inspirasi berkebun dapat dilihat di greenTV IPBEnjoy it!

pekebun kota03

Petani Lampung dengan cepat mengadopsi teknologi yang diteladankan oleh mahasiswa peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2012. Setelah melihat hasil penelitian di lahan pasang surut Lampung selama musim kemarau, petani Lampung kemudian ikut menanam kedelai dengan varietas Tanggamus di akhir tahun 2012 yang tergolong masih kering.

Petani seakan tidak percaya melihat keragaan tanaman kedelai yang telah mereka tanam. Mereka terkagum-kagum melihat tingginya tanaman kedelai yang mereka tanam dan jumlah polongnya rata-rata mencapai 100 polong per tanaman. Polong yang terbentuk pun terlihat berisi sehingga dugaan hasil yang diperoleh tidak mengecewakan.

kedelai lampung

Penampilan Varietas Nasional Tanggamus, 2013
(Source: Arief Setya Nugroho)

petani kedelai lampung

Perbandingan petani dengan pertanaman kedelai di Lampung, 2013
(Source: Arief Setya Nugroho)

Petani yang dihimpun dalam kelompok tani setempat berencana akan menanam kedelai kembali dalam luasan di atas 50 ha setelah tanam padi di tahun 2013. Petani mengetahui tingginya kebutuhan kedelai di Lampung dan membaca potensi penanaman kedelai untuk menjadi sumber penghasilan yang prospektif. Kebutuhan benih disuplai dari petani yang telah menanam terlebih dahulu.

Semangat petani untuk menanam kedelai dipicu hasil penelitian mahasiswa IPB, Arief Setya Nugroho, tentang budidaya jenuh air (BJA) untuk tanaman kedelai di lahan pasang surut Lampung. Dari hasil penelitian tersebut, ditunjukkan potensi produktivitas kedelai mencapai 4 ton/ha. Tidak hanya mendapat informasi dan melihat langsung hasil penelitian, petani juga mendapat benih varietas Tanggamus dan Anjasmoro dari hasil penelitian.

Ketahanan pangan adalah bullshit (omong kosong) ketika ketahanan benih adalah zerro (nol). Ketersediaan pangan adalah bullshit ketika ketersediaan benih adalah zerro. Mudah saja menebak kedaulatan pangan  dari rumus tersebut.

Kedelai adalah salah satu pangan nasional yang akan diusung di puncak swasembada pangan. Penyediaan lahan baru untuk mendongkrak produksi, sepertinya sedang diusahakan. Entah lupa atau terlalu semangat mencari lahan, sepertinya usaha penyediaan benih tidak pernah disinggung dari mana pengadaannya.

BJA03

Pengadaan Benih secara Bertahap

Kebutuhan benih kedelai yang akan ditanam tergantung karakter varietas dan jumlah populasi yang ditanam. Misalkan saja, varietas Tanggamus hendak ditanam dengan populasi 400.000 tanaman/ha dengan bobot 100 butir benihnya adalah 10 g. Dengan demikian diperlukan setidaknya 40 kg benih untuk menanam dalam luasan satu hektar (dengan asumsi semua benih tumbuh sehingga tidak dilakukan penyulaman).

Target swasembada kedelai seharusnya sudah diperhitungkan sejak awal dari pengadaan benih. Bila saja pemerintah ingin menanam dalam luasan 100 ha, maka pemerintah memerlukan 4000 kg benih alias 4 ton benih. Sebelum mendapatkan sejumlah benih tersebut, pemerintah sudah harus menanam terlebih dahulu dalam luasan 10 ha. Dalam hal ini, dari lahan 10 ha tersebutlah dihasilkan 4 ton benih (dengan asumsi produktivitas 1 ton/ha).

Pemerintah rencananya akan menanam dalam luasan 1.5 juta ha di tahun 2014, kira-kira berapa jumlah benih kedelai yang diperlukan? Secara matematis dapat dihitung demikian, 1.500.000 ha x 40 kg/ha = 6.000.000 kg = 6.000 ton. Jadi pemerintah memerlukan 6000 ton benih untuk menggarap 1.5 juta ha lahan untuk kedelai. Dengan asumsi produktivitas nasional 1 ton/ha, kebutuhan benih tersebut harus didukung oleh luas tanam khusus untuk benih seluas 6000 ha.

Apakah sejumlah benih ini juga harus Indonesia impor? Lahan mana yang sudah dikhususkan untuk pengadaan benih kedelai di pelosok Indonesia?

Negeri ini membutuhkan kaum intelektual yang kuat di bidang pertanian. Kaum intelektual di bidang pertanian salah satunya adalah lulusan perguruan tinggi pertanian.

Riah Badriah dengan Sayuran Greenhouse di Bogor, 2013

Munandar Irvanda di Perkebunan Kelapa Sawit di Kalimantan, 2013

Andri Hamidi dengan Kedelai Nasional Tanggamus di Lampung, 2012

Hans D Welly dengan Ladang Jagung Palembang, 2012

Arinal H Izzawati Nurrahma dengan Padi Organik, 2012

Swasembada pangan berkelanjutan, demikian judul manis terpampang di situs Sekretariat Kabinet Republik Indonesia (7 Agustus 2012). Puncak tajuk ini dibidik akan dicapai pada tahun 2014 yang berarti dua tahun lagi sejak tulisan itu dirilis. Tidak hanya swasembada, pangan Indonesia dijamin juga berkelanjutan. Dalam kelompok pangan, kedelai menjadi salah satu yang hendak diangkat pada tahun 2014 selain beras, jagung, gula pasir (tebu), dan daging sapi. Produksi kedelai yang dibidik pada tahun 2014 adalah 2.7 juta ton.

Produksi 2.7 ton yang ditargetkan dapat dikatakan telah melebihi kebutuhan nasional sebesar 2.2 juta ton, seperti rekaman BPS. Optimisme pencapaian swasembada ini didorong oleh akan adanya dukungan pemerintah daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat tersebut.

Jauh sebelum tulisan di situs Setkab RI tersebut keluar, Antara News (3 Maret 2010) mencatat pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) RI tentang target swasembada kedelai Indonesia pada tahun 2014. Pernyataan Mentan RI tersebut merupakan pandangannya 4 tahun lagi pada masa itu. Optimisme Mentan akan swasembada kedelai Indonesia hendak diwujudkan dalam penurunan impor 20% per tahun dan peningkatan produksi lokal 20% per tahun. Peningkatan produksi lokal ditempuh dengan penambahan areal tanam kedelai. Penambahan areal tanam disebutkan akan merambah Hutan Tanam Industri (HTI) dan areal baru yang dijanjikan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Kementerian Pertanian (Kementan) RI melanjutkan optimisme pencapaian swasembada kedelai di tahun 2014, seperti yang direkam Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat (9 Agustus 2012). Kali ini Maman Suparaman, Direktur Aneka Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kementerian Pertanian, menegaskan kemampuan pemerintah dalam realisasi swasembada kedelai tahun 2014. Swasembada itu dirinci dari dukungan areal tanam 1.3 juta ha, produktivitas 2.6 ton/ha dan pembiayaan 6.88 triliun rupiah. Areal tanam yang dibidik kemudian adalah lahan bekas panen padi dengan fokus Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan)RI, Rusman Heriawan, ikut menyumbang lompatan besar pencapaian swasembada kedelai 2014 Indonesia, seperti yang direkam Jaring News (15 September 2012). Wamentan melihat perlunya pemakaian bibit unggul kedelai yang memiliki produktivitas 2 ton/ha.

Semakin dekat dengan tahun 2014, timbul keraguan akan pencapaian swasembada kedelai di tahun 2014. Hiruk pikuk masyarakat Indonesia kian kentara. Seribu seminar dilakukan untuk mengukur kembali kelayakan optimisme pencapaian swasembada kedelai 2014 Indonesia. Seminar tersebut entah berujung ke mana dan semua pulang dengan harapan yang dipenggal-pengal. Semua berguman sama, “Mungkin akan ada seseorang yang akan mewujudkan swasembada kedelai Indonesia, kita tunggu rekamannya di bioskop kesayangan-kesayangan kita

Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) yang disuarakan Ahmad melalui kompas.com (7 Agustus 2012) menyoroti kesungguhan pemerintah dalam berjanji. Menurut Ahmad, janji swasembada kedelai telah didengungkan sejak tahun 2008 namun sampai pada tahun 2011 tidak ada hasilnya. Apakah ini adalah janji jilid dua?

Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) pesimis akan ketercapaian swasembada kedelai Indonesia. Hal ini direkam oleh merdeka.com (23 Juli 2012) yang didasarkan pada tidak adanya tanda-tanda peningkatan produksi.

Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional yang disuarakan Winarno Tohir melalui Rima News (7 Agustus 2012), mulai menyangsikan pencapaian swasembada kedelai 2014 Indonesia. Winarno menyebutkan beban pencapaian swasembada mengharuskan peningkatan produksi sebesar 20.05 % (620 ribu ton) per tahun untuk menutupi defisit konsumsi yang ada. Akankah itu terealisasi sedangkan tahun 2014 sudah di depan mata?

Menanggapi respon rasionalisasi dan pesisme akan swasembada kedelai 2014 Indonesia, Listyani Wijayanti selaku Deputi kepala BPPT bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, menyatakan perlunya komitmen akademisi, pelaku bisnis dan pemerintah untuk tetap percaya diri. Pernyataan tersebut direkam oleh warta ekonomi (8 Agustus 2012).

Komitmen IPB dalam Penelitian Penanaman Kedelai di Lahan Pasang Surut, 2012

Lahan Petani Kedelai Binaan IPB di Lahan Pasang Surut, 2012

Komitmen seperti apa yang dibutuhkan?

Luas areal tanam kedelai pada tahun 2012, seperti disuarakan oleh Suryamin selaku Kepala BPS, dalam tempo.co (1 November 2012), sudah diprediksi mengalami penurunan sebesar 8%.

Bulog sepertinya diam saja melihat harga kedelai dipermainkan di pasar. Maman Suparman selaku Direktur Aneka Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian Kementerian Pertanian, seperti direkam kompas.com,  menilai penggunaan Bulog perlu dikembalikan seperti era Presiden Suharto dalam pencadangan pangan dan stabilisasi harga.

Kini, sudah tahun 2013. Tinggal setahun lagi, Indonesia (dicanangkan) akan swasembada kedelai.  Luas tanam kedelai sudah semakin mantap dipatok Kementan sebesar 1.6 juta ha, seperti disuarakan Ahmad Suryana selaku Kepala Badan Ketahanan Pertanian yang terekam okezone (23 Januari 2013).

Bersiaplah untuk merekam pencapaian besar Indonesia. Entah siapa dalang dari pencapaian ini. Tetapi wayang-wayang dari barisan petani lokal, akademisi, pebisnis, importir dan pemerintah sedang dimainkan. Mungkin juga sedang dipermainkan. Siapa bilang pemerintah menjadi dalang dari pencapaian swasembada kedelai 2014 Indonesia? Siapa bilang importir menjadi wayang dalam pencapaian swasembada kedelai 2014 Indonesia? 

 

Acuan rekaman berita berita:

  1. http://www.setkab.go.id/artikel-5284-.html
  2. http://www.antaranews.com/berita/1267594881/pemerintah-targetkan-swasembada-kedelai-2014
  3. http://diperta.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/informasi/berita/detailberita/1446
  4. http://www.jaringnews.com/ekonomi/sektor-riil/23029/ini-cara-wamentan-capai-swasembada-kedelai-
  5. http://www.merdeka.com/uang/kopti-pesimis-target-swasembada-kedelai-tercapai.html
  6. http://www.rimanews.com/read/20120807/71731/kelompok-tani-sangsikan-indonesia-swasembada-kedelai-2014
  7. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/08/07/22385849/Swasembada.Kedelai.2.7.Juta.Ton.Sulit.Dicapai
  8. http://wartaekonomi.co.id/berita4529/kementerian-pertanian-pede-swasembada-kedelai-2014.html
  9. http://www.tempo.co/read/news/2012/11/01/087439099/Produksi-Kedelai-Tahun-Ini-Turun-8-Persen
  10. http://jakarta.okezone.com/read/2013/01/23/320/750632/swasembada-kedelai-butuh-perluasan-lahan