PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada era globalisasi saat ini, jumlah penduduk di dunia kian bertambah,  akibatnya kebutuhan akan pangan senantiasa mengalami peningkatan. Pertanian menjadi jawaban utama atas permasalahan tersebut. Perlahan tapi pasti tanpa kita sadari, luasan lahan pertanian yang produktif untuk diusahakan kian berkurang.  Penyebab utamanya ialah aktivitas manusia yang bersifat merusak seperti pengalihfungsian lahan pertanian menjadi perumahan dan industri, penebangan hutan secara liar yang mengakibatkan erosi, penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan sehingga menyebabkan degradasi tanah, pemakaian pestisida anorganik melebihi dosis sehingga menimbulkan resistensi dan risurjensi hama, dan sebagainya.

Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk kembali meningkatkan produktivitas lahan pertanian dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara preventif dan kuratif. Upaya kuratif merupakan upaya yang lebih bersifat perbaikan setelah terjadinya degradasi. Salah satu upaya kuratif yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesuburan tanah ialah melalui penggunaan bahan organik dari limbah sisa pertanian dalam bentuk kompos. Kompos merupakan bahan-bahan organik (sampah organik) yang telah mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme (bakteri pembusuk) yang bekerja di dalamnya (Hadisumitro, 2001). Pengomposan menurut Djaja (2008) didefinisikan sebagai suatu proses biologis yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah material organik seperti kotoran ternak, sampah, daun, kertas, dan sisa makanan menjadi kompos.

Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.

Tujuan

Tujuan dari praktikum pembuatan kompos ini adalah untuk mengetahui teknik pengomposan yang benar, cepat, dan mudah dikerjakan. Selain itu, untuk membandingkan jenis bahan penolong yang paling menentukan keberhasilan dalam proses pembuatan kompos maka digunakan metode minus-one test.


TINJAUAN PUSTAKA

Kompos merupakan bahan-bahan organik (sampah organik) yang telah mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme (bakteri pembusuk) yang bekerja di dalamnya (Hadisumitro, 2001). Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (2003), pengomposan didefinisikan sebagai proses biokimiawi yang melibatkan jasad renik sebagai agensia (perantara) yang merombak bahan organik menjadi bahan yang mirip humus.

Terdapat beberapa keunggulan kompos menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (2003) yang tidak dapat digantikan oleh pupuk anorganik, yaitu :

  1. Kompos mampu mengurangi kepekatan dan kepadatan tanah sehingga memudahkan perkembangan akar dan kemampuannya dalam menyerap hara.
  2. Kompos mampu meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air sehingga tanah dapat menyimpan air lebih lama dan mencegah terjadinya kekeringan pada tanah.
  3. Kompos mampu menahan erosi tanah sehingga mampu mengurangi pencucian hara.
  4. Kompos mampu menciptakan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan jasad renik seperti cacing tanah dan mikroba yang sangat berguna bagi kesuburan tanah.

Prinsip dasar pengomposan ialah mencampur bahan organik kering yang kaya akan karbohidrat dengan bahan organik basah yang banyak mengandung N (Djaja, 2008). Terdapat beberapa persyaratan karakteristik bahan baku yang sesuai untuk proses pengomposan seperti yang tersaji dalam tabel 1.

Tabel 1. Persyaratan karakteristik bahan baku yang sesuai untuk proses pengomposan

Karakteristik Bahan Rentangan
Baik Ideal
C/N ratio 20 : 1 – 40 : 1 25 : 1 – 30 : 1
Kandungan air 40 – 65% 50 – 60%
Konsentrasi oksigen >5% >5%
Ukuran partikel (inci ø) 1/8 – 1/2 Bervariasi
pH 5.5 – 9 6.5 – 8.5
Densitas (kg/m3) <0.7887
Suhu (0C) 43 – 65.5 54 – 60

Sumber : Rynk et al. dalam Djaja (2008)

Bahan-bahan yang umumnya digunakan sebagai bahan baku kompos menurut Djaja (2008) antara lain :

  1. Kotoran Sapi

Kotoran sapi umumnya banyak mengandung air sehingga perlu dicampur dengan bahan lain yang mengandung karbon kering seperti jerami. Sementara itu, kotoran sapi perah banyak mengandung air dan N sehingga perlu dicampur dengan serbuk gergaji agar kandungan airnya dapat menurun dan jumlah karbon keringnya dapat meningkat.

  1. Kotoran Ayam

Kotoran ayam umumnya mengandung air lebih sedikit dibanding kotoran sapi namun kandungan N tinggi. Oleh karena itu kotoran ayam sebaiknya dicampur dengan serbuk gergaji atau serutan kayu. Kualitas kotoran ayam sangat ditentukan oleh pakan yang diberikan dan alas lantai kandang yang digunakan sehingga kualitas kotoran ayam petelur tentunya akan berbeda dengan kualitas ayam potong.

  1. Jerami Padi

Jerami padi biasanya mengandung sedikit air namun kandungan karbonnya tinggi. Umumnya jerami mudah dirombak dalam proses pengomposan, kandungan nitrogen di dalamnya lebih sedikit karena sudah digunakan dalam proses pertumbuhan dan produksi padi. Penggunaan jerami padi sebagai bahan baku kompos sebaiknya dicacah terlebih dahulu sebelum dicampur dengan bahan lain agar proses dekomposisi berlangsung lebih cepat.

  1. Serbuk Gergaji

Serbuk gergaji cukup baik digunakan sebagai bahan baku kompos walaupun tidak seluruh komponennya dapat dirombak dengan sempurna. Kualitas serbuk gergaji sangat ditentukan oleh jenis kayu, asal daerah penanaman, serta umur kayu karena semakin tua umur kayu maka semakin sedikit kandungan air dan zat haranya.

Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (2003) terdapat beberapa faktor penting yang berpengaruh dalam pembuatan kompos yaitu :

  1. C/N ratio bahan yang dikompos

Setiap bahan organik mengandung unsur C (karbon) dan N (nitrogen) dengan perbandingan yang berbeda-beda. Suatu bahan yang mengandung unsur C tinggi maka nilai C/N rationya juga akan tinggi, sebaliknya bahan yang mengandung unsur N tinggi maka nilai C/N rationya rendah. Nilai C/N ratio tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan proses dekomposisi. Semakin tinggi nilai C/N ratio suatu bahan maka akan semakin lambat proses pembentukan komposnya, sebaliknya semakin rendah nilai C/N ratio suatu bahan maka semakin cepat proses pembentukan komposnya.

  1. Ukuran bahan yang dikomposkan

Semakin kecil ukuran bahan organik yang dikomposkan maka semakin cepat proses pengomposan yang terjadi karena kerja dari mokroba pengurai lebih ringan. Sebaliknya semakin besar ukuran bahan organik yang dikomposkan,  maka semakin lama pula terjadinya proses pengomposan karena kerja dari mikroba pengurai lebih berat. Itulah sebabnya mengapa dalam pengomposan jerami padi perlu dilakukan pencacahan jerami menjadi ukuran yang lebih kecil.

  1. Aerasi

Proses pengomposan sebaiknya terjadi dalam kondisi oksigen yang mencukupi agar aktivitas bakteri aerob dapat berlangsung secara optimum. Oleh karena itu untuk memberikan aerasi yang cukup perlu disediakan celah-celah kosong di antara bahan yang dikomposkan untuk memudahkan sirkulasi udara. Selain itu perlu dilakukan pembalikan tumpukan kompos secara berkala setiap seminggu sekali agar tersedia aerasi yang baik.

  1. Suhu

Proses dekomposisi bahan organik akan menghasilkan panas akibat dari metabolisme mikroba pengurai. Pada awal pengomposan suhu tumpukan bahan akan berada pada kisaran 320C dan lama kelamaan seiring dengan meningkatnya aktivitas mikroorganisme suhu tumpukan bahan akan terus naik hingga 600C bahkan bisa mencapai 780C. Tinggi rendahnya suhu pengomposan sangat bergantung pada jenis bahan yang dikomposkan. Bahan dengan C/N ratio tinggi akan sulit mencapai suhu tinggi sebaliknya bahanp-bahan dengan C/N ratio rendah akan dengan cepat mencapai suhu tinggi. Semakin tinggi suhu yang bisa dicapai maka akan semakin cepat pula proses pengomposan. Kecenderungan inilah yang menimbulkan cara menyiasati agar pengomposan berlangsung lebih cepat yaitu dengan cara menutup bahan yang dikompos dengan terpal atau plastik hitam agar panas yang dihasilkan dari metabolisme mikroba pengurai tidak keluar tetapi tetap bertahan di dalam.

  1. Kelembapan

Keadaan lingkungan yang lembap sangat diperlukan untuk aktivitas mikroba pengurai. Kondisi bahan kompos yang terlalu kering akan menghentikan aktivitas mikroba yang akan menghambat dekomposisi. Sebaliknya kondisi bahan yang terlalu basah akan menghambat aerasi dan membuat suasana menjadi anaerobik yang pada akhirnya juga akan menghambat aktivitas mikroba pengurai. Oleh karena itu kelembapan optimal yang disarankan adalah 40-60 %.

Proses pembuatan kompos dapat berlangsung dari enam bulan hingga dua tahun, namun dengan pengelolaan kelima faktor tersebut kompos dapat disiapkan dalam satu bulan bahkan dua minggu untuk kompos dari bahan sampah pasar. Ciri-ciri keberhasilan pembuatan kompos adalah selam proses pengomposan tidak menimbulkan bau busuk dan kompos yang dihasilkan berwarna cokelat kehitaman seperti warna tanah (humus) yang lembap.

Karakteristik fisik kompos yang matang adalah struktur bahan komposnya sudah remah, media lepas-lepas tidak kompak maupun tidak dapat dikenali kembali bahah dasarnya. Warna yang terbaik adalah coklat kehitaman. Warna hitam murni menunjukkan proses fermentasi yang kurang baik karena teralalu banyak lengas dan kekurangan udara. Warna kekelabuan, kekuningan menunjukkan kelebihan tanah atau abu. Apabila bahan yang ada di bagian dalam timbunan kompos terdekomposisi secara anaerob, maka warna akan berubah menjadi kehijauan pucat dan tidak menunjukkan perubahan meskipun proses dekomposisi berjalan lanjut. Proses dekomposisi aerob ditunjukkan terjadi perubahan warna menjadi kehitaman (Sutanto, 2002).

Mikroorganisme efektif (Effective Microorganism (EM) merupakan kultur campuran berbagai jenis mikroorganisme yang bermanfaat (bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, ragi, aktinomisetes, dan jamur peragian) yang dapat dimanfaatkan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman mikrobia tanah. Pemanfaatan EM dapat dilaksanakan melalui empat cara, yaitu sebagai larutan stok EM1, larutan EM5, bokashi EM, dan ekstra tanaman yang difermentasi dengan EM. Manfaat EM bagi pengomposan adalah meningkatkan kualitas bahan organik sebagai pupuk (Sutanto, 2002 dan Hadisuwito, 2007).

Setiap bahan yang berfungsi meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam proses dekomposisi disebut bahan aktivator. Aktivator bahan organik merupakan bahan mengandung nitrogen dalam jumlah banyak dan bermacam-macam bentuk protein, asam amino dan urea. Beberapa contoh aktivator alami adalah fungi yang dikumpulkan dari kompos matang, kotoran ternak, darah kering, beberapa jenis sampah, tanah yang kaya humus, dll. Bahan kimia sintesis  seperti amonium sulfat, sodium nitrat, urea, amoniak dan sebagainya dikenal sebagai aktivator buatan.

Untuk memberikan pengaruh yang baik, maka pH kompos harus mendekati netral atau aak alkalin. Setiap lapisan bahan yang dikomposkan harus ditaburi kapur untuk mengurangi keasaman (Sutanto, 2002).


BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Kegiatan praktikum ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikarawang, Dramaga, Bogor terhitung sejak 28 September 2010 hingga 9 November 2010.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain berupa jerami sebanyak 20 kg, larutan EM4/ Biopugan sebanyak 40 ml, gula pasir 150 g, urea sebanyak 1 kg, kapur tohor 2 kg, dedak/bekatul sebanyak 5 kg, dan air sebanyak 10 liter. Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain golok untuk mencacah jerami, cangkul untuk mengaduk kompos setiap minggu, termometer untuk mengukur suhu kompos setiap minggu, plastik hitam sebagai penutup kompos, dan ember sebagai wadah dalam pembuatan larutan EM4/Biopugan.

Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan kegiatan praktikum ini adalah sebagai berikut :

  1. Jerami yang telah ditimbang dengan bobot 20 kg dicacah dengan menggunakan golok hingga mencapai ukuran 5-10 cm.
  2. Selanjutnya dilakukan pencampuran larutan gula dan EM4 ke dalam 10 liter air dan dilakukan pengadukan satu arah.
  3. Pembuatan kompos selanjutnya dilakukan di atas permukaan tanah yang rata dengan cara meletakkan jerami yang telah dicacah di atas permukaan tanah dengan ketebalan beberapa cm lalu di bagian atasnya ditaburkan bahan penolong berupa larutan gula ditambah EM4, kapur, urea, dan bekatul secara merata.
  4. Lapisan jerami dan bahan penolong dapat dibuat beberapa lapis sesuai dengan jumlah bahan yang tersedia, namun dalam praktikum kali ini pembuatan kompos hanya dilakukan sebanyak dua lapis seperti yang terdapat pada gambar 1.

Gambar 1. Kompos yang terdiri atas dua lapis

  1. Setelah semua jerami dan bahan penolong habis digunakan, selanjutnya lapisan jerami dan bahan penolong tersebut ditutup dengan plastik hitam untuk mempercepat proses dekomposisi dan agar panas yang dihasilkan mikroba pengurai tetap bertahan di dalam bahan kompos.
  2. Selanjutnya setiap seminggu sekali, dilakukan pengamatan terhadap kompos tersebut yang meliputi beberapa parameter antara lain :
    1. Suhu kompos yang diukur dengan menancapkan termometer ke dalam lapisan kompos dan diamati berapa skala yang ditunjuk oleh termometer.
    2. Warna kompos yang diamati secara visual.
    3. Bau kompos yang tercium. Kompos tersebut dinyatakan telah berhasil bila sudah tidak berbau busuk lagi.
  1. Selain itu setiap minggu juga dilakukan pembalikan kompos menggunakan cangkul dengan tujuan memperbaiki aerasi dan agar proses dekomposisi terjadi secara merata.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Data hasil kegiatan proses pengomposan dengan bahan penolong lengkap dan metode one-minus test dari semua kelompok  dapat disajikan pada tabel data di bawah ini :

Tabel 2. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong lengkap (dengan EM4)

Peubah Umur (MST)
1 2 3 4 5 6
Suhu 0C 35 27.38 28.89 30.55
Warna kuning coklat coklat kuning coklat coklat tua coklat tua coklat gelap
Bau bau agak bau agak menyengat kurang bau menyengat

Tabel 3. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong lengkap (dengan biopugan)

Peubah Umur (MST)
1 2 3 4 5
Suhu C 30.5 25 26.67
Warna Cokat Coklat tua Coklat tua Coklat tua
Bau Sangat menyengat Menyengat Tidak bau Tidak bau

Tabel 4. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong lengkap (dengan pupuk kandang)

Peubah Umur (MST)
1 2 3 4
Suhu C 32.22 26.67 26.67
Warna coklat tua coklat tua coklat tua
Bau bau kotoran menyengat bau bau

Tabel 5. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong (tanpa EM4)

Peubah Umur (MST)
1 2 3 4
Suhu C 32.22 28.89 28.89
Warna coklat muda coklat tua coklat tua coklat tua
Bau berbau berbau berbau tidak berbau

Tabel 6. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong tanpa gula pasir

Peubah Umur (MST)
1 2 3 4 5 6
Suhu C 28.33 26.67 26.67 26.67 26.67
Warna coklat coklat coklat coklat coklat tua coklat kehitaman
Bau bau menyengat agak bau tidak bau tidak bau tidak bau

Tabel 7. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong tanpa urea

Peubah Umur (MST)
1 2 3 4 5 6
Suhu C 35 26.67 32 25
Warna coklat cerah coklat kehitaman coklat kehitaman coklat kehitaman coklat kehitaman coklat gelap
Bau jerami segar jerami tidak bau tidak bau tidak bau tidak bau

Tabel 8. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong tanpa kapur

Peubah Umur (MST)
1 2 3 4 5
Suhu C 28.3 27.2 25 26.1
Warna coklat pekat coklat pekat coklat coklat kehitaman
Bau menyengat menyengat agak menyengat tidak bau

(a)                                                 (b)

(c)                                                  (d)

Gambar2. Penampilan kompos pada 6 minggu setelah pengomposan, (a) perlakuan 1a, (b) perlakuan 1b, (c)perlakuan 2, (d) perlakuan 3, (e) perlakuan 4, (f) perlakuan 5

(e)                                                         (f)

(g)

Pembahasan

Pembuatan kompos melibatkan bahan organik yang berasal dari limbah pertanian. Bahan organik tersebut dikembalikan kedalam lahan pertanian untuk memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologi tanah. Proses pengomposan melibatkan dekomposer sehingga perlu diketahui bahan yang kompos dan bahan penolong yang baik untuk proses dekomposisi yang berlangsung cepat.

Bahan baku kompos yang digunakan adalah jerami padi. Bahan baku tersebut termasuk bahan yang memiliki kandungan nitrogen lebih sedikit sehingga rasio C/N jerami tinggi. Kegiatan pencacahan jerami dapat memperluas pemukaan jerami sehingga dekomposer dapat lebih cepat mengurai jerami menjadi kompos. Dari penampilan kompos pada 6 minggu setelah pengomposan, terlihat hampir  semua kelompok perlakuan  masih terlihat jelas bentuk jerami yang berukuran lebih dari 10 cm (gambar2).

Proses dekomposisi dapat dipercepat dengani bahan  penolong yang ditambahkan kedalam bahan baku jerami.  Bahan penolong lengkap yang ditambahkan kepada jerami ada yang lengkap dengan larutan EM atau lengkap dengan pupuk kandang. Di samping itu, perlu juga dilihat hasil pengomposan dengan bahan penolong yang dikurangi satu unsur bahan penolongnya.

Perlakuan pengomposan dengan bahan lengkap menunjukkan hasil yang beragam. Tiga perlakuan dengan bahan penolong lengkap, yaitu EM4, biofugan dan pupuk kandang, tidak menunjukkan karakter kompos yang matang pada 6 minggu setelah pengomposan.

Perlakuan dengan penambahan dengan bahan penolong lengkap EM4 tidak menghasilkan kompos yang matang pada 6 minggu setelah pengomposan. Suhu yang ditampilkan berfluktuatif dan terlihat bahwa suhunya masih mengalami peningkatan dengan bertambahnya waktu. Bau kompos masih menyengat pada 5 minggu setelah pengomposan. Perubahan warna bergerak sangat lamban dari mingu ke minggu. Hasil ini tentu saja berbeda jauh dengan teori yang ada, di mana seharusnya pembuatan kompos dengan bahan penolong EM4 lah yang menunjukkan hasil terbaik.  Hal ini disebabkan larutan EM4 mengandung sejumlah mikroorganisme yang banyak berperan dalam proses dekomposisi.

Perlakuan dengan bahan penolong lengkap biofugan menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda namun lebih baik. Perubahan suhu dan warnanya dapat berubah lebih cepat sehingga sudah tidak berbau pada 4 minggu setelah pengomposan.

Lain halnya dengan perlakuan dengan bahan penolong lengkap pupuk kadang, suhunya sudah konstan pada 3 minggu setelah pengomposan dan warnanya juga sudah menjadi coklat sejak 2 minggu setelah pengomposan. Akan tetapi, bau dari kompos masih tercium pada 4 minggu setelah pengomposan. Hal ini menunjukkan masih ada proses dekomposisi yang terjadi.

Selanjutnya, kegiatan pengomposan dengan perlakuan dengan  metode minus –one test menunjukkan kematangan kompos yang bervariasi. Perlakuan pengurangan bahan penolong antara lain, yaitu tanpa EM4, tanpa gula pasir, tanpa urea, dan tanpa kapur.

Pengomposan dengan bahan penolong tanpa EM4 menghasilkan kompos yang belum terlalu matang. Bahan jerami masih terlihat bentuknya namun sebagian bahan sudah melunak dan hancur pada 6 minggu setelah pengomposan (gambar 2d).Larutan EM4 yang tidak ditambahkan ke dalam bahan baku menyebakan jumlah mikroorganisme pengurai di awal pengomposan sangat terbatas. Namun perlakuan ini masih jauh lebih baik dari pada pengomposan dengan perlakuan pengomposan dengan bahan penolong lengkap EM4. Perubahan warna sangat cepat menjadi coklat tua, yaitu pada 2 minggu setelah pengomposan dan sudah tidak berbau pada 4 minggu setelah pengomposan. Suhu kompos sudah konstan pada suhu 28,89oC pada 3 minggu setelah pengomposan.

Pengomposan dengan bahan penolong tanpa gula pasir menunjukkan kompos yang cukup matang dan penampilan terbaik dari semua perlakuan pada 6 minggu setelah pengomposan (gambar 2e). Gula pasir yang tidak diberikan pada perlakuan ini diharapkan tidak adanya sumber glukosa untuk suplai energi mikroba yang melakukan dekomposisi. Namun pemberian EM4 pada bahan baku meningkatkan mokroorganisme yang menguraikan jerami lebih cepat. Suhu kompos sudah konstan pada 3 minggu setelah pengomposan menjadi 26,67oC. Perubahan warna terjadi secara lambat namun pada 6 minggu setelah tanam berubah menjadi coklat kehitaman. Proses dekomposisi termati terjadi sangat tinggi pada 2 minggu setelah pengomposan sehingga bau yang dikeluarkan menyengat.

Pengomposan dengan bahan penolong tanpa urea menunjukkan penampilan hampir sama dengan pengomposan dengan bahan penolong lengkap dengan EM4 namun terlihat lebih halus pada 6 minggu setelah pengomposan (gambar 2f). Urea yang tidak diberikan pada bahan baku kompos menyebabkan rasio C/N dari perlakuan ini lebih tinggi dari semua perlakuan pengomposan. Hal ini tentu saja menyebabkan proses pengomposan menjadi lebih lambat. Suhu dari kompos mengalami fluktuasi dari minggu ke minggu. Dengan tidak ditambahkannya urea, kompos tidak mengalami bau yang berarti. Perubahan warna dari kompos cepat menjadi gelap.

Pengomposan dengan bahan penolong tanpa tanah kapur menunjukkan penampilan lunak namun tidak terdekomposisi dengan sempurna pada 6 minggu setelah pengomposan (gambar 2g). Kapur yang tidak diberikan kepada bahan baku kompos menyebabkan pH menjadi lebih rendah dari semua perlakuan. Hal ini menyebabkan mikroorganisme tidak optimum dalam melakukan proses dekomposisi. Suhu dari kompos mengalami penurunan dari minggu ke minggu dan meningkat pada 5 minggu setelah pengomposan. Warna kompos lambat mengalami perubahan.

Berdasarkan data hasil pengamatan pengomposan yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa pembuatan kompos dengan menggunakan bahan penolong tanpa EM4 menunjukkan penampilan kematangan yang terbaik, yang kemudian diikuti oleh perlakuan lengkap dengan pupuk kandang,  perlakuan tanpa kapur, perlakuan tanpa EM4, perlakuan lengkap dengan biofugan, perlakuan tanpa ureadan perlakuan lengkap dengan EM4. Hasil ini menunjukkan bahwa pengomposan dengan bahan penolong lengkap dengan pupuk kandang lebih baik dari pada perlakuan dengan bahan penolong lengkap dengan EM4 dan biofugan. Kompos yang baik menunjukkan proses dekomposisi yang tinggi pada 2 minggu setelah pengomposan dan mengalami penurunan suhu pada 3 minggu setelah pengomposan menjadi 25-26oC.

Kondisi yang menyebabkan pembuatan kompos dengan EM4 memberikan hasil yang kurang memuaskan diduga disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu luas permukaan bahan yang dikomposkan, jenis bahan yang dikomposkan, dan suhu lingkungan. Proses pencacahan jerami yang dilakukan pada perlakuan tersebut tidak sempurna sehingga jerami yang dikomposkan masih berukuran lebih dari 10 cm. Akibatnya, mikroba pengurai memerlukan waktu lebih lama mendekomposisi jerami. Kondisi tersebut terjadi karena peralatan yang digunakan untuk mencacah jerami tidaklah tajam Selain tiu jenis bahan yang digunakan yang berupa jerami memiliki rasio C/N yang tinggi. Hal ini menyebabkan proses pengomposan lebih lambat. Suhu lingkungan merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi laju dekomposisi. Curah hujan di Bogor yang tinggi menyebabkan suhu rata-rata harian yang rendah sehingga laju dekomposisi menjadi lebih lambat.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pengomposan dapat dilakukan dengan  mencampurkan bahan baku kompos dengan bahan penolong dekomposisi yang diatur secara berlapis. Kematangan  kompos yang baik ditunjukkan oleh perlakuan dengan bahan penolong tanpa urea dan bahan penolong lengkap dengan pupuk kandang. Ketidakadaan penambahan sumber nitrogen ke dalam bahan baku kompos jerami meyebabkan dekomposisi menjadi lebih lambat.

Saran

Bahan yang baik untuk pengomposan disarankan berasal dari bahan dengan rasio C/N yang rendah. Peralatan yang dipergunakan diharapkan lebih memadai, seperti golok yang lebih tajam untuk memudahkan pencacahan jerami. Sebaiknya kegiatan pengomposan dilakukan dibawah tempat ternaungi untuk memberikan suhu lingkungan yang optimum bagi pengomposan.


DAFTAR PUSTAKA

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 2003. Teknologi Pengomposan. Jakarta: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Djaja, W. 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos dari Kotoran Ternak dan Sampah. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka

Hadisumitro, L.M. 2001. Membuat Kompos edisi revisi. Jakarta: Penebar Swadaya

Hadisuwito, S.2007.Membuat Kompos Cair.Jakarta: PT AgroMedia Pustaka

Sutanto, R.2002.Penerapan Pertanian Organik.Yogyakarta: Kanisius

Lampiran

\

[a]                                          [b]                                [c]

Gambar3. Rangkaian kegiatan pembuatan kompos dan pengamatannya. (a) pencacahan jerami, (b) penambahan bahan penolong, (c) penutupan bahan kompos dengan terpal, (d) pengadukan setiap minggu, (e) pengamatan suhu dengan termometer

[d]

[e]

DAFTAR ISI

<!–[if supportFields]> TOC \o "1-3" \h \z \u <![endif]–>PENDAHULUAN.. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284784 \h <![endif]–>2<!–[if supportFields]><![endif]–>

Latar Belakang. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284785 \h <![endif]–>2<!–[if supportFields]><![endif]–>

TINJAUAN PUSTAKA.. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284786 \h <![endif]–>4<!–[if supportFields]><![endif]–>

BAHAN DAN METODE.. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284787 \h <![endif]–>10<!–[if supportFields]><![endif]–>

Tempat dan Waktu. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284788 \h <![endif]–>10<!–[if supportFields]><![endif]–>

Bahan dan Alat <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284789 \h <![endif]–>10<!–[if supportFields]><![endif]–>

Metode Pelaksanaan. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284790 \h <![endif]–>10<!–[if supportFields]><![endif]–>

HASIL DAN PEMBAHASAN.. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284791 \h <![endif]–>12<!–[if supportFields]><![endif]–>

Hasil <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284792 \h <![endif]–>12<!–[if supportFields]><![endif]–>

Pembahasan. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284793 \h <![endif]–>15<!–[if supportFields]><![endif]–>

KESIMPULAN DAN SARAN.. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284794 \h <![endif]–>19<!–[if supportFields]><![endif]–>

Kesimpulan. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284795 \h <![endif]–>19<!–[if supportFields]><![endif]–>

Saran. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284796 \h <![endif]–>19<!–[if supportFields]><![endif]–>

DAFTAR PUSTAKA.. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284797 \h <![endif]–>21<!–[if supportFields]><![endif]–>

Lampiran. <!–[if supportFields]> PAGEREF _Toc278284798 \h <![endif]–>22<!–[if supportFields]><![endif]–>

<!–[if supportFields]><![endif]–>

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada era globalisasi saat ini, jumlah penduduk di dunia kian bertambah, akibatnya kebutuhan akan pangan senantiasa mengalami peningkatan. Pertanian menjadi jawaban utama atas permasalahan tersebut. Perlahan tapi pasti tanpa kita sadari, luasan lahan pertanian yang produktif untuk diusahakan kian berkurang. Penyebab utamanya ialah aktivitas manusia yang bersifat merusak seperti pengalihfungsian lahan pertanian menjadi perumahan dan industri, penebangan hutan secara liar yang mengakibatkan erosi, penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan sehingga menyebabkan degradasi tanah, pemakaian pestisida anorganik melebihi dosis sehingga menimbulkan resistensi dan risurjensi hama, dan sebagainya.

Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk kembali meningkatkan produktivitas lahan pertanian dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara preventif dan kuratif. Upaya kuratif merupakan upaya yang lebih bersifat perbaikan setelah terjadinya degradasi. Salah satu upaya kuratif yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesuburan tanah ialah melalui penggunaan bahan organik dari limbah sisa pertanian dalam bentuk kompos. Kompos merupakan bahan-bahan organik (sampah organik) yang telah mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme (bakteri pembusuk) yang bekerja di dalamnya (Hadisumitro, 2001). Pengomposan menurut Djaja (2008) didefinisikan sebagai suatu proses biologis yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah material organik seperti kotoran ternak, sampah, daun, kertas, dan sisa makanan menjadi kompos.

Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.

Tujuan

Tujuan dari praktikum pembuatan kompos ini adalah untuk mengetahui teknik pengomposan yang benar, cepat, dan mudah dikerjakan. Selain itu, untuk membandingkan jenis bahan penolong yang paling menentukan keberhasilan dalam proses pembuatan kompos maka digunakan metode minus-one test.


TINJAUAN PUSTAKA

Kompos merupakan bahan-bahan organik (sampah organik) yang telah mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme (bakteri pembusuk) yang bekerja di dalamnya (Hadisumitro, 2001). Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (2003), pengomposan didefinisikan sebagai proses biokimiawi yang melibatkan jasad renik sebagai agensia (perantara) yang merombak bahan organik menjadi bahan yang mirip humus.

Terdapat beberapa keunggulan kompos menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (2003) yang tidak dapat digantikan oleh pupuk anorganik, yaitu :

  1. Kompos mampu mengurangi kepekatan dan kepadatan tanah sehingga memudahkan perkembangan akar dan kemampuannya dalam menyerap hara.
  2. Kompos mampu meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air sehingga tanah dapat menyimpan air lebih lama dan mencegah terjadinya kekeringan pada tanah.
  3. Kompos mampu menahan erosi tanah sehingga mampu mengurangi pencucian hara.
  4. Kompos mampu menciptakan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan jasad renik seperti cacing tanah dan mikroba yang sangat berguna bagi kesuburan tanah.

Prinsip dasar pengomposan ialah mencampur bahan organik kering yang kaya akan karbohidrat dengan bahan organik basah yang banyak mengandung N (Djaja, 2008). Terdapat beberapa persyaratan karakteristik bahan baku yang sesuai untuk proses pengomposan seperti yang tersaji dalam tabel 1.

Tabel 1. Persyaratan karakteristik bahan baku yang sesuai untuk proses pengomposan

Karakteristik Bahan

Rentangan

Baik

Ideal

C/N ratio

20 : 1 – 40 : 1

25 : 1 – 30 : 1

Kandungan air

40 – 65%

50 – 60%

Konsentrasi oksigen

>5%

>5%

Ukuran partikel (inci ø)

1/8 – 1/2

Bervariasi

pH

5.5 – 9

6.5 – 8.5

Densitas (kg/m3)

<0.7887

Suhu (0C)

43 – 65.5

54 – 60

Sumber : Rynk et al. dalam Djaja (2008)

Bahan-bahan yang umumnya digunakan sebagai bahan baku kompos menurut Djaja (2008) antara lain :

  1. Kotoran Sapi

Kotoran sapi umumnya banyak mengandung air sehingga perlu dicampur dengan bahan lain yang mengandung karbon kering seperti jerami. Sementara itu, kotoran sapi perah banyak mengandung air dan N sehingga perlu dicampur dengan serbuk gergaji agar kandungan airnya dapat menurun dan jumlah karbon keringnya dapat meningkat.

  1. Kotoran Ayam

Kotoran ayam umumnya mengandung air lebih sedikit dibanding kotoran sapi namun kandungan N tinggi. Oleh karena itu kotoran ayam sebaiknya dicampur dengan serbuk gergaji atau serutan kayu. Kualitas kotoran ayam sangat ditentukan oleh pakan yang diberikan dan alas lantai kandang yang digunakan sehingga kualitas kotoran ayam petelur tentunya akan berbeda dengan kualitas ayam potong.

3. Jerami Padi

Jerami padi biasanya mengandung sedikit air namun kandungan karbonnya tinggi. Umumnya jerami mudah dirombak dalam proses pengomposan, kandungan nitrogen di dalamnya lebih sedikit karena sudah digunakan dalam proses pertumbuhan dan produksi padi. Penggunaan jerami padi sebagai bahan baku kompos sebaiknya dicacah terlebih dahulu sebelum dicampur dengan bahan lain agar proses dekomposisi berlangsung lebih cepat.

  1. Serbuk Gergaji

Serbuk gergaji cukup baik digunakan sebagai bahan baku kompos walaupun tidak seluruh komponennya dapat dirombak dengan sempurna. Kualitas serbuk gergaji sangat ditentukan oleh jenis kayu, asal daerah penanaman, serta umur kayu karena semakin tua umur kayu maka semakin sedikit kandungan air dan zat haranya.

Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (2003) terdapat beberapa faktor penting yang berpengaruh dalam pembuatan kompos yaitu :

  1. C/N ratio bahan yang dikompos

Setiap bahan organik mengandung unsur C (karbon) dan N (nitrogen) dengan perbandingan yang berbeda-beda. Suatu bahan yang mengandung unsur C tinggi maka nilai C/N rationya juga akan tinggi, sebaliknya bahan yang mengandung unsur N tinggi maka nilai C/N rationya rendah. Nilai C/N ratio tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan proses dekomposisi. Semakin tinggi nilai C/N ratio suatu bahan maka akan semakin lambat proses pembentukan komposnya, sebaliknya semakin rendah nilai C/N ratio suatu bahan maka semakin cepat proses pembentukan komposnya.

  1. Ukuran bahan yang dikomposkan

Semakin kecil ukuran bahan organik yang dikomposkan maka semakin cepat proses pengomposan yang terjadi karena kerja dari mokroba pengurai lebih ringan. Sebaliknya semakin besar ukuran bahan organik yang dikomposkan, maka semakin lama pula terjadinya proses pengomposan karena kerja dari mikroba pengurai lebih berat. Itulah sebabnya mengapa dalam pengomposan jerami padi perlu dilakukan pencacahan jerami menjadi ukuran yang lebih kecil.

  1. Aerasi

Proses pengomposan sebaiknya terjadi dalam kondisi oksigen yang mencukupi agar aktivitas bakteri aerob dapat berlangsung secara optimum. Oleh karena itu untuk memberikan aerasi yang cukup perlu disediakan celah-celah kosong di antara bahan yang dikomposkan untuk memudahkan sirkulasi udara. Selain itu perlu dilakukan pembalikan tumpukan kompos secara berkala setiap seminggu sekali agar tersedia aerasi yang baik.

  1. Suhu

Proses dekomposisi bahan organik akan menghasilkan panas akibat dari metabolisme mikroba pengurai. Pada awal pengomposan suhu tumpukan bahan akan berada pada kisaran 320C dan lama kelamaan seiring dengan meningkatnya aktivitas mikroorganisme suhu tumpukan bahan akan terus naik hingga 600C bahkan bisa mencapai 780C. Tinggi rendahnya suhu pengomposan sangat bergantung pada jenis bahan yang dikomposkan. Bahan dengan C/N ratio tinggi akan sulit mencapai suhu tinggi sebaliknya bahanp-bahan dengan C/N ratio rendah akan dengan cepat mencapai suhu tinggi. Semakin tinggi suhu yang bisa dicapai maka akan semakin cepat pula proses pengomposan. Kecenderungan inilah yang menimbulkan cara menyiasati agar pengomposan berlangsung lebih cepat yaitu dengan cara menutup bahan yang dikompos dengan terpal atau plastik hitam agar panas yang dihasilkan dari metabolisme mikroba pengurai tidak keluar tetapi tetap bertahan di dalam.

  1. Kelembapan

Keadaan lingkungan yang lembap sangat diperlukan untuk aktivitas mikroba pengurai. Kondisi bahan kompos yang terlalu kering akan menghentikan aktivitas mikroba yang akan menghambat dekomposisi. Sebaliknya kondisi bahan yang terlalu basah akan menghambat aerasi dan membuat suasana menjadi anaerobik yang pada akhirnya juga akan menghambat aktivitas mikroba pengurai. Oleh karena itu kelembapan optimal yang disarankan adalah 40-60 %.

Proses pembuatan kompos dapat berlangsung dari enam bulan hingga dua tahun, namun dengan pengelolaan kelima faktor tersebut kompos dapat disiapkan dalam satu bulan bahkan dua minggu untuk kompos dari bahan sampah pasar. Ciri-ciri keberhasilan pembuatan kompos adalah selam proses pengomposan tidak menimbulkan bau busuk dan kompos yang dihasilkan berwarna cokelat kehitaman seperti warna tanah (humus) yang lembap.

Karakteristik fisik kompos yang matang adalah struktur bahan komposnya sudah remah, media lepas-lepas tidak kompak maupun tidak dapat dikenali kembali bahah dasarnya. Warna yang terbaik adalah coklat kehitaman. Warna hitam murni menunjukkan proses fermentasi yang kurang baik karena teralalu banyak lengas dan kekurangan udara. Warna kekelabuan, kekuningan menunjukkan kelebihan tanah atau abu. Apabila bahan yang ada di bagian dalam timbunan kompos terdekomposisi secara anaerob, maka warna akan berubah menjadi kehijauan pucat dan tidak menunjukkan perubahan meskipun proses dekomposisi berjalan lanjut. Proses dekomposisi aerob ditunjukkan terjadi perubahan warna menjadi kehitaman (Sutanto, 2002).

Mikroorganisme efektif (Effective Microorganism (EM) merupakan kultur campuran berbagai jenis mikroorganisme yang bermanfaat (bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, ragi, aktinomisetes, dan jamur peragian) yang dapat dimanfaatkan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman mikrobia tanah. Pemanfaatan EM dapat dilaksanakan melalui empat cara, yaitu sebagai larutan stok EM1, larutan EM5, bokashi EM, dan ekstra tanaman yang difermentasi dengan EM. Manfaat EM bagi pengomposan adalah meningkatkan kualitas bahan organik sebagai pupuk (Sutanto, 2002 dan Hadisuwito, 2007).

Setiap bahan yang berfungsi meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam proses dekomposisi disebut bahan aktivator. Aktivator bahan organik merupakan bahan mengandung nitrogen dalam jumlah banyak dan bermacam-macam bentuk protein, asam amino dan urea. Beberapa contoh aktivator alami adalah fungi yang dikumpulkan dari kompos matang, kotoran ternak, darah kering, beberapa jenis sampah, tanah yang kaya humus, dll. Bahan kimia sintesis seperti amonium sulfat, sodium nitrat, urea, amoniak dan sebagainya dikenal sebagai aktivator buatan.

Untuk memberikan pengaruh yang baik, maka pH kompos harus mendekati netral atau aak alkalin. Setiap lapisan bahan yang dikomposkan harus ditaburi kapur untuk mengurangi keasaman (Sutanto, 2002).


BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Kegiatan praktikum ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikarawang, Dramaga, Bogor terhitung sejak 28 September 2010 hingga 9 November 2010.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain berupa jerami sebanyak 20 kg, larutan EM4/ Biopugan sebanyak 40 ml, gula pasir 150 g, urea sebanyak 1 kg, kapur tohor 2 kg, dedak/bekatul sebanyak 5 kg, dan air sebanyak 10 liter. Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain golok untuk mencacah jerami, cangkul untuk mengaduk kompos setiap minggu, termometer untuk mengukur suhu kompos setiap minggu, plastik hitam sebagai penutup kompos, dan ember sebagai wadah dalam pembuatan larutan EM4/Biopugan.

Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan kegiatan praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Jerami yang telah ditimbang dengan bobot 20 kg dicacah dengan menggunakan golok hingga mencapai ukuran 5-10 cm.

2. Selanjutnya dilakukan pencampuran larutan gula dan EM4 ke dalam 10 liter air dan dilakukan pengadukan satu arah.

3. Pembuatan kompos selanjutnya dilakukan di atas permukaan tanah yang rata dengan cara meletakkan jerami yang telah dicacah di atas permukaan tanah dengan ketebalan beberapa cm lalu di bagian atasnya ditaburkan bahan penolong berupa larutan gula ditambah EM4, kapur, urea, dan bekatul secara merata.

4. Lapisan jerami dan bahan penolong dapat dibuat beberapa lapis sesuai dengan jumlah bahan yang tersedia, namun dalam praktikum kali ini pembuatan kompos hanya dilakukan sebanyak dua lapis seperti yang terdapat pada gambar 1.

Gambar 1. Kompos yang terdiri atas dua lapis

5. Setelah semua jerami dan bahan penolong habis digunakan, selanjutnya lapisan jerami dan bahan penolong tersebut ditutup dengan plastik hitam untuk mempercepat proses dekomposisi dan agar panas yang dihasilkan mikroba pengurai tetap bertahan di dalam bahan kompos.

6. Selanjutnya setiap seminggu sekali, dilakukan pengamatan terhadap kompos tersebut yang meliputi beberapa parameter antara lain :

a. Suhu kompos yang diukur dengan menancapkan termometer ke dalam lapisan kompos dan diamati berapa skala yang ditunjuk oleh termometer.

b. Warna kompos yang diamati secara visual.

c. Bau kompos yang tercium. Kompos tersebut dinyatakan telah berhasil bila sudah tidak berbau busuk lagi.

7. Selain itu setiap minggu juga dilakukan pembalikan kompos menggunakan cangkul dengan tujuan memperbaiki aerasi dan agar proses dekomposisi terjadi secara merata.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Data hasil kegiatan proses pengomposan dengan bahan penolong lengkap dan metode one-minus test dari semua kelompok dapat disajikan pada tabel data di bawah ini :

Tabel 2. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong lengkap (dengan EM4)

Peubah

Umur (MST)

1

2

3

4

5

6

Suhu 0C

35

27.38

28.89

30.55

Warna

kuning coklat

coklat kuning

coklat

coklat tua

coklat tua

coklat gelap

Bau

bau

agak bau

agak menyengat

kurang bau

menyengat

Tabel 3. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong lengkap (dengan biopugan)

Peubah

Umur (MST)

1

2

3

4

5

Suhu C

30.5

25

26.67

Warna

Cokat

Coklat tua

Coklat tua

Coklat tua

Bau

Sangat menyengat

Menyengat

Tidak bau

Tidak bau

Tabel 4. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong lengkap (dengan pupuk kandang)

Peubah

Umur (MST)

1

2

3

4

Suhu C

32.22

26.67

26.67

Warna

coklat tua

coklat tua

coklat tua

Bau

bau kotoran

menyengat

bau

bau

Tabel 5. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong (tanpa EM4)

Peubah

Umur (MST)

1

2

3

4

Suhu C

32.22

28.89

28.89

Warna

coklat muda

coklat tua

coklat tua

coklat tua

Bau

berbau

berbau

berbau

tidak berbau

Tabel 6. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong tanpa gula pasir

Peubah

Umur (MST)

1

2

3

4

5

6

Suhu C

28.33

26.67

26.67

26.67

26.67

Warna

coklat

coklat

coklat

coklat

coklat tua

coklat kehitaman

Bau

bau

menyengat

agak bau

tidak bau

tidak bau

tidak bau

Tabel 7. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong tanpa urea

Peubah

Umur (MST)

1

2

3

4

5

6

Suhu C

35

26.67

32

25

Warna

coklat cerah

coklat kehitaman

coklat kehitaman

coklat kehitaman

coklat kehitaman

coklat gelap

Bau

jerami segar

jerami

tidak bau

tidak bau

tidak bau

tidak bau

Tabel 8. Pengamatan proses pengomposan perlakuan dengan bahan penolong tanpa kapur

Peubah

Umur (MST)

1

2

3

4

5

Suhu C

28.3

27.2

25

26.1

Warna

coklat pekat

coklat pekat

coklat

coklat kehitaman

Bau

menyengat

menyengat

agak menyengat

tidak bau


(a) (b)

(c) (d)

Gambar2. Penampilan kompos pada 6 minggu setelah pengomposan, (a) perlakuan 1a, (b) perlakuan 1b, (c)perlakuan 2, (d) perlakuan 3, (e) perlakuan 4, (f) perlakuan 5

(e) (f)

(g)


Pembahasan

Pembuatan kompos melibatkan bahan organik yang berasal dari limbah pertanian. Bahan organik tersebut dikembalikan kedalam lahan pertanian untuk memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologi tanah. Proses pengomposan melibatkan dekomposer sehingga perlu diketahui bahan yang kompos dan bahan penolong yang baik untuk proses dekomposisi yang berlangsung cepat.

Bahan baku kompos yang digunakan adalah jerami padi. Bahan baku tersebut termasuk bahan yang memiliki kandungan nitrogen lebih sedikit sehingga rasio C/N jerami tinggi. Kegiatan pencacahan jerami dapat memperluas pemukaan jerami sehingga dekomposer dapat lebih cepat mengurai jerami menjadi kompos. Dari penampilan kompos pada 6 minggu setelah pengomposan, terlihat hampir semua kelompok perlakuan masih terlihat jelas bentuk jerami yang berukuran lebih dari 10 cm (gambar2).

Proses dekomposisi dapat dipercepat dengani bahan penolong yang ditambahkan kedalam bahan baku jerami. Bahan penolong lengkap yang ditambahkan kepada jerami ada yang lengkap dengan larutan EM atau lengkap dengan pupuk kandang. Di samping itu, perlu juga dilihat hasil pengomposan dengan bahan penolong yang dikurangi satu unsur bahan penolongnya.

Perlakuan pengomposan dengan bahan lengkap menunjukkan hasil yang beragam. Tiga perlakuan dengan bahan penolong lengkap, yaitu EM4, biofugan dan pupuk kandang, tidak menunjukkan karakter kompos yang matang pada 6 minggu setelah pengomposan.

Perlakuan dengan penambahan dengan bahan penolong lengkap EM4 tidak menghasilkan kompos yang matang pada 6 minggu setelah pengomposan. Suhu yang ditampilkan berfluktuatif dan terlihat bahwa suhunya masih mengalami peningkatan dengan bertambahnya waktu. Bau kompos masih menyengat pada 5 minggu setelah pengomposan. Perubahan warna bergerak sangat lamban dari mingu ke minggu. Hasil ini tentu saja berbeda jauh dengan teori yang ada, di mana seharusnya pembuatan kompos dengan bahan penolong EM4 lah yang menunjukkan hasil terbaik. Hal ini disebabkan larutan EM4 mengandung sejumlah mikroorganisme yang banyak berperan dalam proses dekomposisi.

Perlakuan dengan bahan penolong lengkap biofugan menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda namun lebih baik. Perubahan suhu dan warnanya dapat berubah lebih cepat sehingga sudah tidak berbau pada 4 minggu setelah pengomposan.

Lain halnya dengan perlakuan dengan bahan penolong lengkap pupuk kadang, suhunya sudah konstan pada 3 minggu setelah pengomposan dan warnanya juga sudah menjadi coklat sejak 2 minggu setelah pengomposan. Akan tetapi, bau dari kompos masih tercium pada 4 minggu setelah pengomposan. Hal ini menunjukkan masih ada proses dekomposisi yang terjadi.

Selanjutnya, kegiatan pengomposan dengan perlakuan dengan metode minus –one test menunjukkan kematangan kompos yang bervariasi. Perlakuan pengurangan bahan penolong antara lain, yaitu tanpa EM4, tanpa gula pasir, tanpa urea, dan tanpa kapur.

Pengomposan dengan bahan penolong tanpa EM4 menghasilkan kompos yang belum terlalu matang. Bahan jerami masih terlihat bentuknya namun sebagian bahan sudah melunak dan hancur pada 6 minggu setelah pengomposan (gambar 2d).Larutan EM4 yang tidak ditambahkan ke dalam bahan baku menyebakan jumlah mikroorganisme pengurai di awal pengomposan sangat terbatas. Namun perlakuan ini masih jauh lebih baik dari pada pengomposan dengan perlakuan pengomposan dengan bahan penolong lengkap EM4. Perubahan warna sangat cepat menjadi coklat tua, yaitu pada 2 minggu setelah pengomposan dan sudah tidak berbau pada 4 minggu setelah pengomposan. Suhu kompos sudah konstan pada suhu 28,89oC pada 3 minggu setelah pengomposan.

Pengomposan dengan bahan penolong tanpa gula pasir menunjukkan kompos yang cukup matang dan penampilan terbaik dari semua perlakuan pada 6 minggu setelah pengomposan (gambar 2e). Gula pasir yang tidak diberikan pada perlakuan ini diharapkan tidak adanya sumber glukosa untuk suplai energi mikroba yang melakukan dekomposisi. Namun pemberian EM4 pada bahan baku meningkatkan mokroorganisme yang menguraikan jerami lebih cepat. Suhu kompos sudah konstan pada 3 minggu setelah pengomposan menjadi 26,67oC. Perubahan warna terjadi secara lambat namun pada 6 minggu setelah tanam berubah menjadi coklat kehitaman. Proses dekomposisi termati terjadi sangat tinggi pada 2 minggu setelah pengomposan sehingga bau yang dikeluarkan menyengat.

Pengomposan dengan bahan penolong tanpa urea menunjukkan penampilan hampir sama dengan pengomposan dengan bahan penolong lengkap dengan EM4 namun terlihat lebih halus pada 6 minggu setelah pengomposan (gambar 2f). Urea yang tidak diberikan pada bahan baku kompos menyebabkan rasio C/N dari perlakuan ini lebih tinggi dari semua perlakuan pengomposan. Hal ini tentu saja menyebabkan proses pengomposan menjadi lebih lambat. Suhu dari kompos mengalami fluktuasi dari minggu ke minggu. Dengan tidak ditambahkannya urea, kompos tidak mengalami bau yang berarti. Perubahan warna dari kompos cepat menjadi gelap.

Pengomposan dengan bahan penolong tanpa tanah kapur menunjukkan penampilan lunak namun tidak terdekomposisi dengan sempurna pada 6 minggu setelah pengomposan (gambar 2g). Kapur yang tidak diberikan kepada bahan baku kompos menyebabkan pH menjadi lebih rendah dari semua perlakuan. Hal ini menyebabkan mikroorganisme tidak optimum dalam melakukan proses dekomposisi. Suhu dari kompos mengalami penurunan dari minggu ke minggu dan meningkat pada 5 minggu setelah pengomposan. Warna kompos lambat mengalami perubahan.

Berdasarkan data hasil pengamatan pengomposan yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa pembuatan kompos dengan menggunakan bahan penolong tanpa EM4 menunjukkan penampilan kematangan yang terbaik, yang kemudian diikuti oleh perlakuan lengkap dengan pupuk kandang, perlakuan tanpa kapur, perlakuan tanpa EM4, perlakuan lengkap dengan biofugan, perlakuan tanpa ureadan perlakuan lengkap dengan EM4. Hasil ini menunjukkan bahwa pengomposan dengan bahan penolong lengkap dengan pupuk kandang lebih baik dari pada perlakuan dengan bahan penolong lengkap dengan EM4 dan biofugan. Kompos yang baik menunjukkan proses dekomposisi yang tinggi pada 2 minggu setelah pengomposan dan mengalami penurunan suhu pada 3 minggu setelah pengomposan menjadi 25-26oC.

Kondisi yang menyebabkan pembuatan kompos dengan EM4 memberikan hasil yang kurang memuaskan diduga disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu luas permukaan bahan yang dikomposkan, jenis bahan yang dikomposkan, dan suhu lingkungan. Proses pencacahan jerami yang dilakukan pada perlakuan tersebut tidak sempurna sehingga jerami yang dikomposkan masih berukuran lebih dari 10 cm. Akibatnya, mikroba pengurai memerlukan waktu lebih lama mendekomposisi jerami. Kondisi tersebut terjadi karena peralatan yang digunakan untuk mencacah jerami tidaklah tajam Selain tiu jenis bahan yang digunakan yang berupa jerami memiliki rasio C/N yang tinggi. Hal ini menyebabkan proses pengomposan lebih lambat. Suhu lingkungan merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi laju dekomposisi. Curah hujan di Bogor yang tinggi menyebabkan suhu rata-rata harian yang rendah sehingga laju dekomposisi menjadi lebih lambat.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pengomposan dapat dilakukan dengan mencampurkan bahan baku kompos dengan bahan penolong dekomposisi yang diatur secara berlapis. Kematangan kompos yang baik ditunjukkan oleh perlakuan dengan bahan penolong tanpa urea dan bahan penolong lengkap dengan pupuk kandang. Ketidakadaan penambahan sumber nitrogen ke dalam bahan baku kompos jerami meyebabkan dekomposisi menjadi lebih lambat.

Saran

Bahan yang baik untuk pengomposan disarankan berasal dari bahan dengan rasio C/N yang rendah. Peralatan yang dipergunakan diharapkan lebih memadai, seperti golok yang lebih tajam untuk memudahkan pencacahan jerami. Sebaiknya kegiatan pengomposan dilakukan dibawah tempat ternaungi untuk memberikan suhu lingkungan yang optimum bagi pengomposan.


DAFTAR PUSTAKA

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 2003. Teknologi Pengomposan. Jakarta: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Djaja, W. 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos dari Kotoran Ternak dan Sampah. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka

Hadisumitro, L.M. 2001. Membuat Kompos edisi revisi. Jakarta: Penebar Swadaya

Hadisuwito, S.2007.Membuat Kompos Cair.Jakarta: PT AgroMedia Pustaka

Sutanto, R.2002.Penerapan Pertanian Organik.Yogyakarta: Kanisius


Lampiran

\

[a] [b] [c]

Gambar3. Rangkaian kegiatan pembuatan kompos dan pengamatannya. (a) pencacahan jerami, (b) penambahan bahan penolong, (c) penutupan bahan kompos dengan terpal, (d) pengadukan setiap minggu, (e) pengamatan suhu dengan termometer

[d]

[e]