Pendahuluan

Latar Belakang

Analisis vegetasi ditujukan untuk mempelajari tingkat suksesi, evaluasi hasil pengendalian gulma, perubahan flora (shifting) sebagai akibat metode pengendalian tertentu dan evaluasi herbisida (trial) untuk menentukan aktivitas suatu herbisida terhadap jenis gulma di lapangan.

Konsep dan metode analisis vegetasi sangat bervariasi tergantung keadaan vegetasi dan tujuan analisis. Metode yang digunakan harus disesuaikan dengan struktur dan komposisi vegetasi. Metode garis (line intercept) biasanya digunakan untuk areal yang luas dengan vegetasi semak rendah. Metode titik (point intercept) biasanya digunakan untuk pengamatan sebuah petak contoh dengan vegetasi yang tumbuh menjalar (creeping). Metode visual (visual emotion) dapat digunakan untuk suatu survey daerah yang luas dan tidak tersedia cukup waktu.

Data yang diperoleh dari analis vegetasi dapat digolongkan menjadi, data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif menunjukkan bagaimana suatu jenis tersebar dan berkelompok, stratifikasinya, periodisitas dan sebagainya. Data kualitatif diperoleh dari pengamatan lapangan berdasarkan pengamalan yang luas. Data kuantitatif diperoleh dari hasil penjabaran dan pengamatan tiap petak contoh di lapangan.

Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum analisis vegetasi adalah untuk memperkenalkan kepada mahasiswa bagaiman cara mengidentifikasi jenis gulma dominan pada suatu areal dalam usaha efisiensi pengendalian gulma, baik dengan data kualitatif maupun kuantitatif.

Bahan dan Metode

Waktu dan Tempat

Praktikum analisis vegetasi dilakukan pada tanggal 8 Oktober 2010. Petak contoh yang diamati adalah lahan di Kebun Percobaan Cikabayan IPB, Darmaga.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah  vegetasi gulma di bawah tegakan kebun durian. Alat yang digunakan dalam analis vegetasi gulma adalah kuadran yang berukuran 0,5 m x 0,5 m, timbangan gunting rumput atau pisau, kantong kertas untuk bahan yang akan dioven, spidol atau label, dan oven.

Metodologi

Analisis Kuantitatif

Metode analisis yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode kuadrat yang merupakan metode paling sederhana dan sering digunakan. Yang dimaksud “kuadrat” adalah suatu ukuran luas yang diukur dalam satuan kuadrat (m2) berbentuk bujur sangkar.

Pertama kali yang harus dilakukan adalah menentukan petak contoh pada lahan percobaan yang akan dianalisis vegetasi gulmanya. Petak contoh diambil secara acak dengan cara melemparkan kuadrat (0,5 cm x 0,5 cm) pada lahan percobaan. Pada praktikum ini, jumlah petak contoh yang diambil sebanyak 3 petak contoh yang diharapkan dapat mewakili populasi seluruh area. Selanjutnya, dilakukan pemanenan gulma yang tumbuh pada petak contoh tepat setinggi permukaan tanah untuk menetapkan kerapatan, frekuensi, dan berat kering biomassa gulma. Gulma yang tumbuh menjalar melewati kuadrat dipotong tepat pada luasan kuadrat tersebut.

Gulma yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan spesies. Kerapatan ditentukan dengan cara menghitung jumlah individu tiap spesies gulma pada tiap petak contoh. Gulma yang telah dipisahkan berdasarkan  spesies dimasukkan ke dalam kantong kertas untuk dikeringkan dengan cara dioven. Frekuensi ditentukan dengan cara menghitung jumlah petak contoh (dalam persen) yang memuat spesies gulma tersebut. Penentuan berat kering biomassa gulma dilakukan dengan cara menimbang tiap spesies gulma yang telah dioven.

Berdasarkan data kerapatan, frekuensi, dan berat kering gulma, selanjutnya dilakukan penghitungan nisbah jumlah dominansi (NJD) atau summed dominance ratio (SDR).

*        Kerapatan Mutlak (KM) =

*        Kerapatan Nisbi (KN) =

*        Berat Kering Mutlak (BKM) =

*        Berat Kering Nisbi (BKN) =

*        Frekuensi Mutlak (FM) =

*        Frekuensi Nisbi (FN) =

*        Nilai Penting (NP) =

*        Nisbah Jumlah Dominasi (NJD) =

Koefisien komunitas atau indeks kesamaan digunakan untuk membandingkan  dua komunitas vegetasi dari dua areal/daerah. Perhitungan koefisien komunitas dilakukan dengan rumus:

C= nilai koefisien komunitas

W= jumlah dari dua kuantitas terendah untuk jenis dari masing-masing komunitas

a= jumlah dari seluruh kuantitas pada komunitas pertama

b= jumlah dari seluruh kuantitas pada komunitas kedua

Koefisien tersebut dapat diperoleh dari menghitung nilai mutlak masing-masing parameter atau nilai SDR. Nilai C tersebut berperan penting dalam suatu percobaan herbisida, untuk melihat seberapa jauh homogenitas petak percobaan. Nilai C sebesar 70 % atau lebih menunjukkan vegetasi tersebut di areal relatif homogen.


Hasil dan Pembahasan

Hasil

Tabel1. Nilai kerapatan, berat keringm dan frekuensi gulma pada lahan percobaan               durian Cikabayan

No Spesies Gulma Kerapatan Berat Kering Frekuensi NP (%)
KM KN FM FN BKM BKN
1 Ageratum conyzoides 20 0,43318172 3 2 7,7 0,535179 2,968361
2 Acasia sp 1 0,021659086 1 0,666667 3,6 0,250214 0,938539
3 Amelia sp 1 0,021659086 1 0,666667 1,3 0,090355 0,778681
4 Ageratum houstonianum 6 0,129954516 2 1,333333 0,53 0,036837 1,500125
5 Axonopus compressus 866 18,75676846 19 12,66667 589,43 40,96763 72,39107
6 Borreria alata 62 1,342863331 3 2 12,1 0,840996 4,183859
7 Centoteca lapacea 5 0,10829543 1 0,666667 2,1 0,145958 0,92092
8 Centrosema pubescens 8 0,173272688 3 2 9,5 0,660286 2,833559
9 Cyclosorus aridus 2 0,043318172 1 0,666667 0,8 0,055603 0,765588
10 Cleome rutidosperma 17 0,368204462 4 2,666667 6,6 0,458725 3,493596
11 Commelina benghalensis 76 1,646090535 4 2,666667 14,23 0,989039 5,301796
12 Commelina diffusa 7 0,151613602 4 2,666667 0,8 0,055603 2,873883
13 Commelina sp. 30 0,64977258 5 3,333333 8,09 0,562286 4,545392
14 Cyperus kyllingia 50 1,082954299 6 4 9,73 0,676272 5,759226
15 Emilia sonchifolia 15 0,32488629 2 1,333333 4,5 0,312767 1,970987
16 Imperata cylindrica 20 0,43318172 3 2 7,86 0,5463 2,979482
17 Ipomea fistulosa 4 0,086636344 1 0,666667 0,8 0,055603 0,808906
18 Hyptis rhomboidea 16 0,346545376 1 0,666667 3,6 0,250214 1,263426
19 Ischaeum timorense 20 0,43318172 1 0,666667 3,58 0,248824 1,348672
20 Mikania micrantha 7 0,151613602 4 2,666667 3,1 0,215462 3,033742
21 Lantana camara 1 0,021659086 1 0,666667 3,1 0,215462 0,903788
22 Ottochloa nodosa 412 8,923543426 15 10 49,75 3,457815 22,38136
23 Oxalis sp. 6 0,129954516 3 2 6,7 0,465676 2,59563
24 Paspalum conjugatum 106 2,295863115 8 5,333333 33,5 2,328378 9,957574
25 Paspallum commersonii 109 2,360840373 2 1,333333 32,3 2,244973 5,939147
26 Peperomia pelucida 58 1,256226987 6 4 31,8 2,210221 7,466448
27 Pasiflora foetida 84 1,819363223 13 8,666667 25,27 1,756361 12,24239
28 Phylanthus niruri 9 0,194931774 2 1,333333 3 0,208511 1,736777
29 Roetboellia exalta 3 0,064977258 2 1,333333 4,8 0,333618 1,731929
30 Rostellularia rundana 7 0,151613602 2 1,333333 6,8 0,472626 1,957573
31 Setaria plicata 17 0,368204462 2 1,333333 4,5 0,312767 2,014305
32 Sentrocema pubescens 1 0,021659086 1 0,666667 0,1 0,00695 0,695276
33 Sinedrella nudiflora 5 0,10829543 1 0,666667 1,3 0,090355 0,865317
34 Stenotaphrum secundatum 2565 55,55555556 22 14,66667 544,8 37,86568 108,0879
35 Zrechtites sp 1 0,021659086 1 0,666667 1,1 0,076454 0,76478
TOTAL 4617 150 1438,77

Table2. Nisbah jumlah dominansi (NJD) pada lahan durian Cikabayan

NO Spesies NJD (%)
1 Stenotaphrum secundatum 36,0293
2 Axonopus compressus 24,130356
3 Ottochloa nodosa 7,4604527
4 Pasiflora foetida 4,0807971
5 Paspalum conjugatum 3,3191914
6 Peperomia pelucida 2,4888161
7 Paspallum commersonii 1,9797156
8 Cyperus kyllingia 1,9197421
9 Commelina benghalensis 1,7672655
10 Commelina sp. 1,5151306
11 Borreria alata 1,3946198
12 Cleome rutidosperma 1,1645321
13 Mikania micrantha 1,0112474
14 Imperata cylindrica 0,9931606
15 Ageratum conyzoides 0,9894537
16 Commelina diffusa 0,9579611
17 Centrosema pubescens 0,9445196
18 Oxalis sp. 0,86521
19 Setaria plicata 0,671435
20 Emilia sonchifolia 0,6569956
21 Rostellularia rundana 0,6525243
22 Phylanthus niruri 0,5789255
23 Roetboellia exalta 0,5773096
24 Ageratum houstonianum 0,5000416
25 Ischaeum timorense 0,4495573
26 Hyptis rhomboidea 0,4211419
27 Acasia sp 0,3128465
28 Centoteca lapacea 0,3069734
29 Lantana camara 0,3012625
30 Sinedrella nudiflora 0,288439
31 Ipomea fistulosa 0,2696354
32 Amelia sp 0,2595602
33 Cyclosorus aridus 0,255196
34 Zrechtites sp 0,2549266
35 Sentrocema pubescens 0,2317587
TOTAL 100

Tabel3. Nilai Kerapatan nisbi berdasarkan analisis vegetasi dari komunitas A dan komunitas D

No. spesies KN A KN D
1 Axonopus compressus 17.34 18.76
2 Borreria alata 1.34 1.34
3 Cleome ruidosperma 0.03 0.37
4 Commelina difusa 0.05 0.15
5 Imperata cylindrica 3.82 0.43
6 Ischaemum timorense 3.14 0.43
7 Mikania micranta 0.01 0.15
8 Ottochloa nodosa 22.24 8.92
9 Oxalis sp 0.03 0.13
10 Paspalum comersonii 0.81 2.36
11 Paspalum conjugatum 16.09 2.3
12 Peperomia pelucida 0.03 1.26
13 Rostellularia rundana 0.15 0.15
14 Setaria plicata 2 0.37
15 Sinedrella nodiflora 0.18 0.11
Total 67.26 37.23

Perhitungan Komunitas:

C =  x 100%

={}x 100%

= 30.96%

Tabel4. Nilai Kerapatan nisbi berdasarkan analisis vegetasi dari komunitas C dan komunitas D

No. Spesies KN B KN D
1 Ageratum conyzoides 0.42 0.43
2 Axonopus compressus 29.08 18.75
3 Borreria alata 2.24 1.34
4 Centrosema pubescens 0.25 0.17
5 Cleome rutidosperma 2.74 0.37
6 Commelina benghalensis 3.24 1.64
7 Commelina diffusa 1.45 0.15
8 Cyperus kyllingia 0.12 1.08
9 Emilia sonchifolia 3.49 0.32
10 Imperata cylindrica 8.48 0.43
11 Ischaemum timorense 2.41 0.43
12 Mikania micrantha 0.08 0.15
13 Ottochloa nodosa 2.24 8.92
14 Oxalis sp 0.04 0.13
15 Paspalum conjugatum 0.08 2.30
16 Phylanthus niruri 0.04 0.20
17 Rostellularia rundana 10.51 0.15
Total 66.93 36.96

Perhitungan Komunitas:

C =  x 100%

=  { x 100%

=  25.78%

Tabel5. Nilai Kerapatan nisbi berdasarkan analisis vegetasi dari komunitas C dan komunitas D

Spesies KM C KM D
Ageratum conyzoides 0.39 0.43
Axonopus compressus 15.21 18.76
Borreria alata 0.27 1.34
Centrosema pubescens 0.04 0.17
Cleome rutidosperma 0.10 0.37
Commelina diffusa 0.43 0.15
Mikania micranta 0.06 0.15
Ottochloa nodosa 32.75 8.92
Paspalum commersonii 0.06 2.36
Paspalum conjugatum 3.64 2.3
Rostellularia rundana 0.27 0.15
Setaria plicata 58.80 0.37
Total 112.02 35.47

Perhitungan komunitas:

C =  x 100%

=  x 100%

= 19%

Pembahasan

Vegetasi menggambarkan perpaduan pelbagai jenis tumbuhan di suatu wilyah atau daerah. Suatu tipe vegetasi menggambarkan suatu daerah dari segi penyebaran tumbuhan  yang ada, baik secara ruang maupun waktu (Sastroutomo, 1990). Analisis vegetasi yang dilakukan di bawah tegakan kebun percobaan durian Cikabayan IPB, Darmaga, teramati mengalami tingkat suksesi gulma tertentu yang mendominasi areal lahan percobaan. Vegetasi yang dianalisis terkait erat dengan cara pengendalian gulma. Langkah pengendalian gulma yang diambil di masa lalu menjadi evaluasi cara pengendalian di masa kini dan evaluasi pemakain herbisida ditinjau dari perubahan vegetasi yang diamati.

Vegetasi kebun percobaan durian yang diamati mengandung gulma  dominan tertentu. Dalam hal ini, dominansi gulma tidak hanya diamati dari variabel kerapatannya dalam petak contoh, tetapi juga penyebarannya yang diamati dari frekuensi kehadirannya dalam petak contoh.

Kerapatan gulma yang diamati di kebun percobaan durian Cikabayan terkait dengan 35 spesies gulma yang teridentifikasi. Spesies gulma yang memiliki kerapatan tertinggi dalam petak contoh di antaranya adalah Stenotaphrum secundatum, Axonopus compressus dan Ottochloa nodosa. Dalam penyebarannya pun teramati, frekuensi keberadaan ketiga gulma di atas tetap mengungguli spesies yang lainnya dengan frekuensi tertinggi diduduki oleh Stenotaphrum secundatum yang diiukuti Axonopus compressus dan Ottochloa nodosa.

Suatu tipe vegetasi kadangkala dibagi lagi menjadi beberapa komunitas yang predominan atau disebut asosiasi, yaitu sekumpulan beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh bersama-sama di suatu lingkungan. Komunitas tumbuhan senantiasa ditandai oleh jenis-jenis yang dominan (Sastroutomo, 1990). Di dalam vegetasi kebun percobaan durian Cikabayan, seperti terlihat dalam tabel2, teramati vegetasinya didominasi oleh gulma Stenotaphrum secundatum dengan nisbah jumlah dominansi 36,03% yang diikuti oleh. Axonopus compressus (NJD 24,13%) dan Ottochloa nodosa (7,46%). Ketiga spesies ini berasal dari golongan rumput sehingga untuk aplikasi herbisida perlu diberikan herbisida untuk golongan rumput.

Masih dalam satu areal kebun percobaan Cikabayan, namun dengan vegetasi yang berbeda, empat komunitas dicoba diamati indeks kesamaan vegetasinya. Empat komunitas itu di adalah komunitas A, B, C dan D; komunitas D sendiri adalah komunitas vegetasi kebun percobaan durian. Koefisien komunitas pada komunitas AD, BD, dan CD, berturut-turut adalah 30,96%, 25,78%, dan 19%; dengan komunitas D sebagai pembanding semua komunitas. Nilai koefisien komunitas teramati lebih kecil dari 70% sehingga dapat dikatakan bahwa tidak homogen. Dalam hal ini, aplikasi herbisida memerlukan perlakuan yang berbeda antara komunitas D dengan komunitas lainnya.

Komposisi jenis yang ada dalam suatu komunitas tumbuhan sering kali mengalami perubahan sejalan dengan waktu. Proses ini dikenal dengan nama suksesi. Jika keadaan lingkungan mikro dari suatu habitat relatif tidak berubah, maka perubahan komposisi jenis akan berjalan sangat lambat atau tidak mengalami perubahan sama sekali (Sastroutomo, 1990). Langakah pengendalian untuk gulma dari golongan rumput yang diterapkan saat ini perlu dievaluasi ketika analisis vegetasi-berikutnya.

Kesimpulan

Gulma dominan dalam areal kebun percobaab durian Cikabayan IPB, Darmaga, adalah Stenotaphrum secundatum yang diikuti Axonopus compressus dan Ottochloa nodosa. Gulma dominan tersebut berasala dari golongan rumput sehingga aplikasi pengendalian manual dan herbisida perlu memperhatikan karakteristik gulma rumput.

Daftar Pustaka

Sastroutomo, SS.1990.Ekologi Gulma.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Lampiran

No Spesies Gulma Kuadran Contoh
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
1 Ageratum conyzoides 0 7 0 12 1 0
2 Acasia sp 0 1
3 Amelia sp 1 0
4 Ageratum houstonianum 0 2 4 0
5 Axonopus compressus 72 11 19 4 74 138 150 98 13 14 2 30 47 6 90 0 20 17 32 29
6 Borreria alata 2 0 58 0 0 2
7 Centoteca lapacea 5 0
8 Centrosema pubescens 0 4 0 3 1 0
9 Cyclosorus aridus 2 0
10 Cleome rutidosperma 4 8 3 2
11 Commelina benghalensis 34 0 1 0 34 0 7 0
12 Commelina diffusa 3 1 1 2
13 Commelina sp. 20 4 1 1 0 4
14 Cyperus kyllingia 0 6 16 10 0 5 7 0 6 0
15 Emilia sonchifolia 12 0 3 0
16 Imperata cylindrica 0 4 10 6
17 Ipomea fistulosa 0 4
18 Hyptis rhomboidea 16 0
19 Ischaeum timorense 0 20
20 Mikania micrantha 0 3 1 0 2 0 1 0
21 Lantana camara 1 0
22 Ottochloa nodosa 54 110 5 1 11 27 0 7 2 0 62 86 4 9 28 3 0 3
23 Oxalis sp. 2 1 3 0
24 Paspalum conjugatum 7 44 0 2 7 0 24 9 0 6 7 0
25 Paspallum commersonii 102 0 0 7
26 Peperomia pelucida 0 3 14 27 1 4 9 0
27 Pasiflora foetida 10 6 0 3 17 11 1 0 2 8 6 12 1 0 5 2
28 Phylanthus niruri 0 2 7 0
29 Roetboellia exalta 0 2 0 1
30 Rostellularia rundana 2 5
31 Setaria plicata 7 0 10 0
32 Sentrocema pubescens 1 0
33 Sinedrella nudiflora 5 0
34 Stenotaphrum secundatum 69 84 57 75 168 204 16 98 82 110 79 56 0 102 200 245 157 153 0 32 12 143 271 152
35 Zrechtites sp 1 0
TOTAL 245 225 111 90 189 303 119 267 286 261 103 79 206 234 325 274 176 162 124 47 94 172 326 199