Masa keemasan IPB dalam 50 tahunnya mencari dan memberi yang terbaik telah dirayakan pada 1 September 2013. Beberapa rangkaian acara digelar untuk memeriahkan ulang tahun nan spesial ini, termasuk acara wisuda yang sepertinya yang kemudian dijatuhkan pada tanggal 4 September 2013.

Dalam euforia tersebut, sebuah surat melayang dari mahasiswa IPB kepada Rektor IPB sedang menjabat, Bapak Herry Suhardiyanto. Surat yang dilayangkan melalui media massa dalam kolom suara pembaca. Surat tersebut sebenarnya merupakan surat mahasiswa IPB tentang temannya yang juga mahasiswa IPB. Anehnya, surat tersebut tidak bertahan lama sehingga tidak dapat diakses dengan leluasa oleh umum. (Entah surat itu sempat terbaca oleh sang ayah atau tidak.  Tapi aku bertaruh tidak).

surat untuk ayah ipb surat untuk ayah ipb2

 

Kalangan mahasiswa yang sempat membaca surat tersebut lewat media massa, facebook, dan link web lainnya memberikan tanggapan yang beragam. Ada yang bersimpati. Ada yang ingin mengirimkan petisi. Ada juga ingin masalah ini tidak dicuatkan ke permukaan karena dapat mempengaruhi citra institusi dan petingginya. Beberapa orang menilai bahwa ini sudah sesuai sistem dan tidak perlu ada yang dipermasalahkan.

Yup, sistem itulah yang menjadi biang keladinya. Kesalahan pendidikan kita adalah menyamaratakan dan memukul rata setiap orang yang akan dididik. Hanya karena ketidaklulusan pada mata kuliah Kalkulus (maksimal sebanyak 3 kali), seorang sarjana peternakan tidak dapat menyelesaikan sistem kelulusannya.

Sudah menjadi biasa, pemandangan gugurnya mahasiswa di IPB tetapi pemandangan pulangnya berpuluh-puluh mahasiswa Papua karena tersangkut nilai di tingkat persiapan bersama (TPB) adalah yang paling menggetarkan hati saya. Mereka putra-putri yang diharapkan kembali untuk membangun daerahnya tetapi kembali sebelum waktunya.

Tidak dapat dipungkiri bila ingin membangun pertanian tidak hanya dengan jalan memasuki perguruan tinggi pertanian. Ini hanya masalah kesempatan yang kemudian dipilih, yang dipikir akan memberikan akses lebih baik tetapi kemudian dibatasi.