Kebutuhan kedelai nasional yang tinggi telah memaksa pemerintah untuk mencari solusi jangka panjang sebagai usaha mencapai ketahan pangan. Penelitian dan plot percontohan mulai digelar untuk melihat produksi kedelai. Lahan pasang surut tidak ketinggalan untuk digarap karena ketersediaan lahan pasang surut dinilai dapat menyumbang kecukupan pemenuhan kebutuhan kedelai nasional.

Permasalahan penanaman kedelai di lahan pasang surut adalah keberadaan pirit yang dapat meracuni tanaman kedelai. Petani dan instansi pertanian yang pernah menanam kedelai di lahan pasang surut tidak pernah mendapatkan hasil lebih dari 1 ton/ha.

Demo Plot Kedelai Instansi Pertanian Palembang, 2012

Sejak tahun 2009 hingga sekarang tahun 2012, peneliti dari Institut Pertanian Bogor mulai menerapkan teknologi budidaya jenuh air di lahan pasang surut Palembang. Skala penelitian dimulai dari ukuran 10 meter persegi hingga tiga hektar. Produktivitas kedelai dapat mencapai 4 ton/ha dengan terapan teknologi tersebut.

 

Budidaya Jenuh Air, 2012

Meskipun telah berturut-turut dengan konsisten melakukan penelitian dengan hasil yang tetap tinggi, teknologi tersebut sepertinya hanya menjadi rekor yang tersimpan rapi di bawah meja peneliti. Petani binaan peneliti mengaku siap memperluas penanaman kedelai namun kendalanya ketiadaan pasar yang menyerap hasil panen tersebut. Petani sejauh ini hanya berproduksi dalam luasan setengah hektar untuk kebutuhan konsumen tempe  di sekitar rumah petani. Dalam hal ini, pemerintah perlu menyerap kedelai petani seperti pemerintah menyerap beras dalam BULOG.