Suatu angkatan yang sangat besar. Tidak berlebihan saya ucapkan. Itulah angkatan di jurusan agronomi dan hortikultura (agh) institut pertanian bogor (ipb). Jurusan ini memanggil 150 calon mahasiswa tiap tahunnya dan jadilah suatu jemaah yang dikomandoi seorang lurah angkatan.

Malam Keakraban Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura Angkatan 45

Foto momentum di atas adalah foto malam puncak dari acara malam keakraban (makrab) mahasiswa agh angkatan 45 (tahun masuk 2008). Dengan lilin yang menyala dalam tata kreatif, terbaca nyala “indigenous 45”. Suatu nama angkatan yang sakral, demikian bunyinya. Suatu label angkatan yang menyatukan dan memaknai perjalanan bersama selama kurang lebih 4 tahun. Indigenous dirakit dari unsur incredible, diligent, energetic and famous. Unsur yang menjadi nilai-nilai bermasyarakat dalam kultural manusia-manusia pertanian terdepan.

Tidak mudah menjaga lilin itu tetap menyala bersamaan. Ada yang baru menyalakan lilinnya di semester 3, ada pula yang baru menyalakannya di semester 5. Di sisi lain ada yang memadamkan lilinnya di tengah perjalanan untuk suatu alasan bahkan tanpa alasan yang dapat kami pahami bahkan belum dapat kami pahami.

Kini, itulah nyala yang berhasil dijaga. Itulah eksistensi yang mengharukan. Itulah cerminan cerita bahagia dalam selapis coklat, ringkasnya.

Mahasiswa agronomi dan hortikultura IPB angkatan 45

Foto Angkatan Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura Angkatan 45 IPB

Di tahun 2012, sudah waktunya untuk membawa lilin-lilin itu dari kumpulannya. Ada yang membawa lilinnya untuk magang di kebun kelapa sawit di kepulauan Riau dan ada pula yang membawa lilinnya untuk penelitian kedelai di Lampung. Pelosok nusantara didatangi oleh lilin-lilin indigenous 45 dalam rangka penelitian dan magang.

Tinggal menghitung bulan, lilin itu akan bersatu di gedung biru GWW. Benar-benar suatu angkatan yang akan mengubah Indonesia di mata dunia.