Indigenous Core



« | »

setelah mengerti analisis usahatani, ingin bertani

Bulan September tanggal 21, kita jalan2 ke petani di Cikarawang, Darmaga, Bogor. Padahal ini baru hari pertama praktikum ekotan. Mungkin dosennya ingin menunjukkan bahwa:

Kalian selalu ingin membantu petani dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produktivitas namun petani sendiri kalian tidak tahu itu siapa. Siapa petani itu? Bagaimana ia sehari-hari?

Hari masih pagi sekitar jam setengah delapan. Petani sudah ada di kebunnya. Mahasiswa tidak dapat berbangga dulu setiap hari praktikum pukul 7 sebab petani praktikum (alias bertani) sejak pukul enam pagi dan berangkat ke ladang sebelum sang mentari terbit.

Lahan kacang tanah di Cikarawang

Nah, kita bertemu dengan salah seorang petani di Cikarawang yang bernama Pak Nursan. Awalnya kita merasa tidak enak mengganggu si bapak bekerja namun ternyata beliau sangat cepat akrab dengan mahasiswa karena beliau sangat terbuka dan humoris.

Pak Nursan dil lahan kacang tanahnya

Penampilan pak Nursan sangat sederhana (hahaha, memangnya penampilannya bagaimana lagi, seperi orang kantoran? :mrgreen:) Kulitnya gelap mungkin terlalu banyak tersengat matahari.

jarak antar baris tanaman selebar mata cangkul

Kita mulai melakukan percakapan. Namun terkadang ada istilah yang tidak dapat dimengerti oleh mahasiswa.

Mahasiwa (M): “Berapa jarak tanam yang bapak gunakan untuk menanam kacang tanah?”

Pak Nursan (N): “yah, selebar mata cangkul inilah nak” (hehe, si bapak gak kayak mahasiswa yang bawa2 penggaris atau tali rafia untuk mengukur jarak tanam)

M: Berapa luas petakan yang bapak garap?

N: Yah seginilah nak. (Kami pun akhirnya menggunakan ilmu kirologi, mengira2 berapa luasan petakan si bapak secara visual. Itulah hebatnya mahasiswa, punya ilmu kirologi–ilmu kira2) :mrgreen:

seni dalam penanaman kacang tanah

petani dan mahasiswa

mahasiswa di bawah pohon pisang dan asprak ekotan

Banyak hal yang dapat kami peroleh saat bercakap2 dengan petani. Terjawab sudah siapa petani itu. Apakah petani sama dengan mahasiswa pertanian? Mungkinkah sama halnya dengan RAKYAT dengan WAKIL RAKYAT di duduk di DPR. :mrgreen: Miris sekali kondisi petani yang temui di cikarawang ini. Bisakah si bapak ini kaya dengan bertani?

Bapak mah, dibilang cukup juga nggak, ya kita cukup2in aja neng” jelas Pak Nursan. Dari pengakuan beliau, petani sangat bergantung pada tengkulak dalam hal penyediaan benih maupun pupuk serta pemasaran hasil panen. Cikarawang hanya selangkah dari kampus IPB yang katanya kampus pertanian. Namun IPB sepertinya menjadi menara gading yang tidak dapat bersinergis dengan petani dan memakmurkan petani di sekitar kampus. Permasalahan ini memang kompleks dan tidak dapat dipandang sebelah mata.

dari berlin ke KP Cikarawang

dari berlin ke KP Cikarawang

***

Nah, pada November 23. Mahasiswa agronomi yang telah terjun ke lahan petani dan bercakap2 dengan petani, mempresentasikan hasil percakapannya. Usahatani petani pun dianalisi kelayakannya. Ada petani yang sebenarnya tidak layak melakukan usahatani yang tengah dikerjakannya karena rasio R/C (revenue per cost) lebih kecil dari satu atau rasio B/C (benefit per cost) bernilai minus sehingga terkadang petani mencari pekerjaan alternatif di luar pertanian seperti menjadi kuliah bangunan atau proyek2 non pertanian.

Istilahnya bukan pekerjaan alternatif di luar pertanian karena nampaknya istilah bertani bagi petani di sini adalah nyambi (sambilan). Jadi bertani adalah pekerjaan sambilan di luar pertanian.

***

Sekarang bagaimana dengan mahasiswa pertanian yang sudah semeter 5 ini. Apakah pertanian sudah menjadi hal tidak propektif lagi? Lebih prospek mana kerja di bidang pertanian dengan bank? :mrgreen:

Duduk di samping saya Arif Rahman mengutarakan pendapatnya demikian:

Kalau kita  tahu harga jahe merah Rp 15.000/kg dan hasil per hektar adalah 1 ton. Penerimaan petani sekali panen adalah Rp 150.000.000 (seratus lima puluh juta). Anggaplah biaya yang dikeluarkan untuk produksi satu musim adalah Rp 5.000.000. Maka keuntungannya adalah Rp 145 juta.

Saya manggut2. Analisis usahatani yang nampaknya ringan namun tidak tahu bagaimana kenyataannya, ahahaha…

Kalian harus dapat pasar dulu, baru dapat menanam si jahe merah. Jadi walapun kalian dapat memproduksi banyak dan tahu harga terkini tinggi, namun kalau tidak ada pasar yang mau membeli, untuk apa?” Pak Munif memberikan penjelasan lanjutan mengenai presentasi percakapan kami dengan petani.

Saya sendiri melihat usahatani tersebut layak bila:

  1. pendapatan tinggi namun pada umur panen yang wajar. Bisa saja pendapatan 10 juta sekali panen namun tanaman dapat dipanen baru setelah 5 bulan. Bila dikalkulasikan, setiap bulan pendapatan dianggap 2 juta. Apakah itu sudah menguntungkan? bagaiamana dengan biaya produksi selanjutnya?
  2. hasil panen tidak berada di bawah ambang ekonomi karena hama, penyakit dan gulma. Bisa saja potensi produksi 3 ton per hektar, namun bagaimana dengan OPT? apakah biaya pengendaliannya tidak melebihi hasil yang diterima? atau sederhananya, 3 ton per hektar itu kalau dibiarkan saja, berapa produksi nyatanya?

Jadi bagaiamana? Masih tertarik bertani? atau ingin gaji pegawai saja yang konstan tiap bulan dan menjilat atasan untuk kenaikan gaji? :mrgreen:

Posted by on November 27, 2010.

Tags: , ,

Categories: AGH IPB, BERKEBUN, inspiring

0 Responses

Leave a Reply

« | »




Recent Posts


Pages