Sebuah pencerahan datang dari dosen agh, Pak Dwiguntoro, tentang pencarian pasangan hidup. Wahahaha, mupeng. ๐Ÿ˜† Beliau secara serius menyingkapkan hal ini ketika mata ini mulai mengantuk pada perkuliahan pukul 13.00. “Kalian sudah harus dari sekarang mencari pasangan hidup” begitu ucap beliau memberi penekanan yang berarti dengan intonasi yang menyerempet komunitas gelap jomblowan sejati. Kata sekarang, berarti saat ini semasih di kampus.

Keragaman yang ada di kampus masih sangat tinggi, kalian bisa memilih pasangan yang kalian sukai ketika di kampus, mulai dari Aceh sampai Papua, ada” tambah sang dosen lagi. Hal ini tentu saja berbeda ketika sudah di dunia kerja nantinya. Ketemunya ama orang2 yang itu-itu saja lagi, bosen kan, ๐Ÿ˜† Paling di dunia kerja, ketemu orang banyakย  itu di dalam bis ato dalam kereta, mau nyari pasangan di sana? :mrgreen:

Dan lagi, sebenarnya IPB sudah membantu kalian dalam menyeleksi pasangan hidup SECARA NASIONAL” imbuh dosennya lagi. Mahasiswa yang ada di kampus IPB adalah mahasiwa yang telah diseleksi dari ribuan mahasiswa yang ada di Indonesia melalui SMPTN, USMI dan BUD. Kalau mau pasangan yang kadang2 pintarnya waktu ujian, pilihlah mahasiswa dari SMPTN. Kalau mau pasangan yang pintar dari SMA dan cukup stabil pintarnya pas kuliah, pilihlah yang dari USMI. Nah, klo mau pasangan yang gak terlalu pintar tapi kaya, pilihlah mahasiswa BUD (seperti hans) yang biaya kuliahnya dua kali lipat lebih mahal bayar uang kuliahnya. ๐Ÿ˜†

***

Entahlah, saya sepertinya sudah bosan kuliah (curhat, ahahaha). Dan saya mau mencari pasangan hidup saja. Trus? Kita akan mulai berkembang biak, hahaha… Yah, stres membawa mahasiswa untuk melestarikan spesiesnya dengan berkembang biak. Stres kenapa? Lihat saja nilai UTS kemaren, pilu hati dibuatnya. Sayup2 BCL mulai menyanyi:

Kuingin marah, melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri disini
Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada
Bahwa hatiku kecewaโ€ฆ
Ini benar hal2 yang serius. Saya kecewa. Dada ini sesak. Ingin mengatakan apalagi sepertinya kemampuan saya memang hanya dapat mempersembahkan rantai karbon. C-C-C-C-C, nilai C semua. Koleksi nilai C ini sangat baik untuk dijadikan perhiasan, yaitu mutiara, karena mutiara terdiri dari rantai karbon yang kompak. whateverlah… (keluh, ahaha)
***
Nikmati sajalah” demikian pesan dosen saya. “Tidak ada manusia yangย  menghadapi ujian dengan persiapan yang sempurna sehingga dapat menyelesaikan semua persoalan
Ngomong emang gampang ya, ahaha. Butuh dongkrak ekstra nih di UAS. Ya, saya akan menikmati semua nilai karbon ini. Kapan lagi akan menikmati momen ini kalau tidak di dalam kampus.

“Sama seperti kalian praktikum, ke sawah, memacul bersama teman2 mahasiswa, kapan lagi akan kalian nikmati. Jadi nikmati sajalah. Ada hal2 yang tidak dapat diulang seperti halnya masa2 SMA, demikian juga masa2 kuliah” closing motivation sang dosen agar mahasiswa terus berjuang mencari pasangan hidup, eh :mrgreen: , agar tidak terlalu down dengan apa saja yang dialami selama masa kuliah. ๐Ÿ˜†
Jadi, kapan kita mulai mencari pasangan hidup ditengah deraan stres bertubi2 dikampus untuk kelangsungan spesies mahasiswa?