weeeeh, mahasiswan IPB lagi demam UTS.. Antara siang dan malam sepertinya tidak ada beda. Tiba2 hari sudah terang saja, PLN untung besar karena lampu on terus… Biasanya bangun pagi ingat si Dia, eh, pas ujian, wajah si Dia tergantikan dengan wajah slide dan modul kuliah.

Apa yang anda pikirkan?” tanya pesbuk

Aduh, belum baca sama sekali ni” mahasiswa update status pagi2.

Ahahaha.. Minat baca mahasiswa IPB menanjak tajam dalam minggu ini. Kejadian yang hanya terjadi dalam 2 kali dalam satu semester (UTS&UAS)  ini akan terus berlanjut hingga satu minggu ke depan (soalnya UTS dua minggu lamanya)…

Membahas soal ujian (foto diperankan oleh Model)

****

Ujian oh ujian. Walau hanya selama dua minggu, efeknya membadai. Kopi-indomie-kopi-indomie-kopi-indomie, kopi biar gak ngantuk, makan indomie karena lebih praktis dan kalo makan nasi, bawaannya bukannya belajar, eh malah ngantuk. Ujung dari ujian adalah istirahat total di rumah sakit selama dua minggu juga. :mrgreen:

Begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab waktu ujian. Dari mana soal2 itu? Pernakah diajarkan di kala perkuliahan? Saya berpikir demikian,

“Kuliah itu tidak penting karena tidak berharga. Kuliah menjadi penting ketika harganya sudah dicantumkan di transkrip nilai. Untuk mengetahui harga dari sebuah kuliah, ujian menjadi salah satu instrumen untuk memberikan harga suatu mata kuliah oleh seorang mahasiswa”

Ketika sudah mengikuti ujian, saya berguman,

“Ah, coba saya pelajari ini lebih mendalam, saya pasti bisa menjawab esay. Saya pikir tadi ini gak keluar di ujian. “

Dan terkadang, setelah mengikuti ujian, saya juga menyadari,

“Saya merasa lebih pintar ketika keluar ruangan ujian, saya menemukan jawaban2 ujian. Namun tetap saja sudah terlambat, saya pintar bukan waktu ujian tadi tapi sesudah keluar ruang ujian”

****

Ahahaha… :mrgreen: Jangan heran kalau opini saya tentang ujian menjerumuskan anda kepada suatu kesan yaitu:

  1. Berjuang mati2an untuk ujian (ala Sistem Kebut Semalam)
  2. Berjuang mati2an untuk nilai yang bagus (Hidup dituntut oleh IP)
  3. Kuliah untuk ujian bukan kuliah untuk kehidupan

Okey, mari kita runut kebelakang, kenapa seorang Hans, katanya adalah mahasiswa, pantas mendapat nilai yang tidak ada peningkatan dari semester ke semester. Tekadnya tetap satu, “Semester esok harus lebih baik”. Namun transkrip nilai tidak dapat membohongi publik. Berikut kesaksiannya:

****

Ruangan begitu besar di kelas agh. Saya duduk didalamnya. Saya seorang mahasiswa.

Doa saya sebelum berangkat kuliah, “Tuhan, lindungi saya hari ini. Semoga saya tidak terlambat untuk kuliah” Soalnya berangkat pas last minute.

Doa saya ketika tengah mengikuti kuliah, “Tuhan, semoga kuliah cepat selesai“. Kalau kuliah selesai, biasanya slide Terima Kasih sebagai jawaban doa saya. Kalau slide Terima Kasih sudah tampil, saya bisa membangunkan teman2 yang sedang tidur di kelas yang hanya akan bangun kalau slide ini muncul.

Saya mendapati bahwa ada dan tidaknya saya di dalam ruang itu sepertinya sama saja. Saya merasa terselip dalam sebuah kawanan yang entah kemana akan perginya. Apalagi kalau ruang kuliahnya di GKA, Faperta, saya bisa mendownload satu album band terbaru, update antivirus, dan browsing literatur gambar buat laporan (semoga dengan terbitnya tulisan saya ini, hotspot Faperta tidak diputus,he… saya hanya menuliskan kenyataan dan anda boleh berdecak kagum. Dan saya ragu ada pihak yang terkait yang sempat membaca hal ini).

Kegiatan belajar mengajar yang saya dapati di perkuliahan menghantarkan saya pada satu kata sakti, Mandiri. Mandiri mencari bahan kuliah (ngopi slide sendiri, emang ada yang mau bayarin,hehe…). Mandiri cari bahan di Perpus? Mmm, gimana ya penonton…he….

Saya mengikuti sebuah perkuliahan dan saya berkata, “Oh, gini yang dibilang kuliah“. Saya mengikuti sebuah seminar atau sebuah presentasi dan saya berkata,”Oh, gini yang namanya seminar atau presentasi“. Dalam hati saya berpikir, “Perasaan gak ada beda kuliah ama mengikuti seminar“. Saya membedakan seminar dan kuliah karena saya berpikir kuliah adalah kegiatan utama mahasiswa di kampus, klo seminar, yah boleh ikut boleh nggak. Meskipun demikian, kedua hal ini berguna untuk pengetahuan mahasiswa. Hanya saja, Kenapa harus ada microsoft power point? (Suka2 dialah, mau ada mau gak, koQ lo yang repot,hahaha)

Ya, saya sudah tidak terlatih untuk bertanya. Ini inti curhat saya,hahahaha… Saya malah jadi risih kalau ada yang bertanya, misalnya Arif Nugroho dan  Ari Wulan. Padahal, mereka mewakili karakter mahasiswa yang seharusnya ditiru.

Kelas agh yang saya ikuti biasanya sangat jarang mengajukan pertanyaan. Klo kelas agh bareng ama departemen lain pada suatu mata kuliah, biasanya departemen lain akan dipersilahkan bertanya lebih banyak,hahaha..dipersilahkan. Coba ya, suatu saat, pas lagi kuliah di GKA, dosennya bertanya, “Ada pertanyaan?”. Semua mahasiswa mengangkat tangan.

Pak saya mau bertanya!” seorang mahasiswa bersuara sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.

Ah, saya dulu pak” mahasiswa lain tidak mau kalah sambil berdiri.

Saya dulu pak, yang angkat tangan kan saya yang pertama” seru mahaiswa lain yang sudah menginjak bangkunya sehingga kelihatan lebih tinggi dari semua yang bertanya.

Pak, saya aja pak, dari tadi saya berdiri di samping bapak” salah seorang mahasiswa merayu dosen dengan maju ke depan.

Walah walah, kalau gini kejadiannya, si Dosen bisa shock berat. Yang ada dia berkata,”Anak TK dari mana ini?” Hahahaha….

Seorang dosen di agh juga mengeluhkan kurangnya pertanyaan dari mahasiswa. “Di lembar EPBM (evaluasi proses belajar mengajar) ada pertanyaan ‘apakah dosen memberikan kesempatan untuk bertanya kepada mahasiswa?’ Dan kalian biasanya menjawab, ‘iya’. Harusnya di EPBM juga disertakan pertanyaan lanjutan ,’apakah mahasiswanya bertanya’. Kalian akan menjawab apa?” demikian ucap dosennya. Hahaha…Jawabannya, tidak selalu dan bahkan tidak sama sekali.

Kenapa ya? Apakah mahasiswa sudah mengerti materinya? Atau malah nggak ngerti sama sekali? Katanya sih, klo yang bertanya, berarti mereka sudah mengerti namun ingin memantapkan pengertiannya dengan bertanya. Jadi, banyaknya mahasiswa tidak bertanya karena memang tidak mengerti, hahaha… :mrgreen:

Saya sendiri, akan bertanya kalau materi itu menyentuh saya, menyentuh pengalaman saya, menyentuh lingkungan saya. Contohnya, saya akan bertanya, “Apa tindakan yang harus dilakukan agar penyakit busuk buah bisa diperkecil pada perkebunan Cacao?” Saya menanyakan hal ini karena saya punya kepentingan di sana, saya punya kebun kakao yang hasilnya menurun karena penyakit busuk buah. Bagaimana dengan materi yang lainnya? Gimana ya Penonton, hahaha…

Nah, yang jadi masalah adalah banyak pertanyaan waktu ujian. Wah, ini artinya apa ya? Koq gini ya? Emang ini pernah dikuliahin ya, wakakaka..

Segala sesuatu memang sudah ada harganya. Cara kita mendapatkannya adalah sebuah proses. Harga itu ada  di dalam proses bukan pada hasilnya. (hahaha :mrgreen: berlagak bijak)