Setelah sempat berjalan2 menyusuri (gile bahasanya) blog mahasiswa IPB, saya menemukan banyak mahasiswa baru (tahun 2010) menggoreskan cerita2 inspiratif dan sarat motivasi… Mungkin mereka masih pada fresh di IPB (emang dari oven, fresh from the oven).. Ya, tau lah.. banyak moment yang dilalui mahasiswa baru IPB yang menyulut semangat mereka untuk kuliah seperti acara MPKMB, pandangan kewirausahaan oleh IPB, acara2 dari asrama TPB, dan semangat dari teman2 baru..

landscape rektorat IPB

***

Masa TPB mungkin bukanlah masa yang menyenangkan (bahasanya sengsara amat), namun dengan banyaknya temen2 tidak ada mata kuliah pun yang terasa berat (cuma ujiannya yang berat,he..). Saya menyaksikan sendiri bagaimana teman2 saya harus pergi (DO) karena tidak cukup memenuhi syarat minimal IP untuk kuliah di IPB...

“Saya dikirim oleh Pemda saya untuk mendalami pendidikan pertanian di IPB namun saya kurang mampu mengikuti mata kuliah dasar seperti kimia, fisika dan pengantar matematika” demikian pernyataan seorang teman dari tanah Papua. Saya tahu teman saya ini berasal dari SMK Pertanian namun dia harus menghadapi mata kuliah yang mungkin begitu asing baginya selama TPB sehingga ia tidak sampai melewati garis finish TPB.

***

Dosen di jurusan saya (AGH-red) pernah mengatakan, “Kalian harus dibuat untuk tidak mengerti terlebih dahulu, barulah kalian bisa¬† menerima pelajaran yang diberikan dosen. Mereka yang datang (ke ruang kuliah) dengan merasa dirinya sudah tahu tidak akan mendapatkan apa2 selama mengikuti kuliah

Hmm, pastinya banyak dari mahasiswa baru adalah siswa nomor satu di sekolahnya namun kecewa ketika tidak mendapati dirinya tidak secemerlang itu di IPB. Mahasiswa baru seperti ditelanjangi pengetahuannya. “Emang apa aja yang sudah kamu tahu?” demikian renungan pribadi itu menghampiri tiap mahasiswa. “Justru karna saya gak tahu2 apa2 makanya saya belajar” seorang teman pernah menjawab pertanyaan itu dengan sederhana dan dangkal.

saya tidak mengatakan bahwa mahasiswa baru itu tidak mengetahui apa2 ketika masuk dunia perguruan tinggi. Namun nampaknya perguruan tinggi punya ‘benang merah’ sendiri yang harus dilakoni oleh mahasiswa (mirip OVJ aja,he..)…

***

Apa yang sudah kalian berikan pada orang tua kalian sejak kalian kuliah di IPB?” tanya seorang dosen pada suatu ketika di awal semester 5 ini. Mahasiswa yang ada di dalam kelas seperti tidak dapat mengeluarkan jawabannya. Mungkin ada yang berpikir kalau sudah pernah mengirimkan baju bagus dari Bogor, atau makanan khas Bogor… Tapi itu kembali menjadi pertanyaan, “Itu kan duit orang tua juga. Biaya kuliah aja masih ditanggung orang tua, gimana mau memberikan seseuatu kepada orang tua?”

Saya akan belajar dan memberikan nilai yang terbaik” mungkin jawaban lain dari mahasiswa namun tidak terucapkan. “Saya selalu mendoakan orang tua saya” demikian ucap seorang mahasiswa ketika diminta memberi jawaban.

“Mendoakan orang tua itu baik. Doakan biar mereka tetap sehat dan mereka bisa cari duit dan ujungnya agar kalian bisa tetap kuliah. Namun apa sebenarnya yang benar2 sudah kalian berikan pada orang tua kalian?” beliau bertanya kembali.

Mahasiswa kembali berpikir (kadang2 lemot juga berpikirnya,he..). “Yang kalian berikan tidak lebih adalah cerita” demikian sang dosen membocorkan jawaban pertanyaan yang sudah merepotkan mahasiswa (he…). Sebenarnya, saya mau cari jawabannya di google (hehe.. tapi udah dibocorin duluan sih..).

Tapi kenapa dengan istilah cerita sebagai persembahan kepada orang tua itu yang menjadi jawabannya?

***

Bila seorang bapak bertemu dengan tetangganya, apakah tetangganya akan menanyakan berapa mobil yang bapak itu punya? Atau berapa banyak harta yang bapak itu miliki? Mereka akan saling bertanya, “Bagaimana kabar anakmu?

Ooh, iya.. Sekarang anak saya sudah semester 5 kuliah di IPB

Wah, tidak lama lagi lulus, ya?” demikian perbincangan itu bergulir.

Cerita, mahasiswa mungkin hanya bisa memberikan cerita kepada orang tuanya. Bila kabar tentang anaknya yang mahasiswa adalah baik, maka orang tua akan begitu senang membagikan cerita tentang anaknya. Namun pertanyaan selanjutya adalah, “Akankah kelakuan mahasiswa yang buruk akan menjadi cerita yang baik oleh orang tuanya?”